Pakan Ternak Langka, Warga Penyaring Kembangkan Lamtoro

Moyo Utara, Gaung NTB
Lantaran Lar tempat penggembalaan sapi dan hewan lainnya sudah berkurang dan menyempit di wilayah desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara akibat dijadikan lahan perkebunan dan dijual ke pihak ketiga (perusahaan), para petani ternak mulai merasakan kesulitan dalam memenuhi pakan ternaknya.
H Hamid salah seorang ketua kelompok petani ternak di wilayah itu mengakui kesulitan untuk memenuhi pakan ternaknya ketika musim panas tiba. Betapa tidak rumput dan jerami sulit didapat. Kalaupun ada jerami itupun jerami kering dan harganya cukup mahal sementara kualitas gizinya tidak sebanding. Sehingga solusi yang ia coba adalah dengan memberikan makanan dari tumbuhan tanaman keras seperti lamtoro gung.
Dikatakannya, memang awalnya ternaknya khusus Sapi Sumbawa (sapi putih) tidak menyukai pakan dari lamtoro itu. Tapi dengan bantuan pengetahuan dari sejumlah nara sumber dan pakar maka proses pembuatan pakan itu berhasil dilakukan dan sapinya menjadi suka makan lamtoro itu. Positifnya perkembangan ternaknya sangat baik mdibanding dengan pakan dari jerami dan rumput.
Dijelaskan H Hamid, dirinya telah berkoordinasi dengan sejumlah ahli yang telah meneliti eksistensi sapi putih di wilayah Desa Penyaring seperti ahli sapi Dr Syamsul Hidayat Dilaga, pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewandan pihak Unram. Diakuinya dari hasil bimbingan dan kerjasama itu dirinya dan kelompok lain mendapatkan sejumlah solusi yang tepat berupa alternatif pakan selain pakan jerami dan rumput, kini pakan dari lamtoro. “Kami sudah mencoba untuk menanggulangi kekurangan pakan dengan menanam pohon lamtoro. Ternyata hasilnya terhadap perkembangan dan pertumbuhan hewan sangat signifikan. Selain irit juga mudah didapat tidak seperti pakan lain,” katanya. Untuk musim hujan mendatang dirinya akan menanam dua ribu pohon.
Imbas dari apa yang dilakukan H Hamid telah menjadi inspirasi buat rekan seprofesi di desanya. Saat ini sudah banyak petani beralih menanam lamtoro di lahan kebun dan pagar sawahnya untuk memenuhi kebutuhan pakan.
Dari hasil investigasi di lapangan alternatif pakan dengan lamtoro belum memasyarakat di desa tersebut karenanya masyarakat masih membutuhkan pendampingan, pencerahan dan sosialisasi yang lebih intens menuju petani ternak yang cerdas guna menghasilkan ternak yang berkualitas.