Pakar UGM: Antivirus Covid-19 Belum Ditemukan

Tidak ada antivirus khusus yang terbukti efektif dan direkomendasikan untuk Covid.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof Djoko Wahyono mengatakan berbagai penelitian telah dilakukan terkait Covid-19. Namun hingga saat ini belum ada antivirus khusus yang terbukti efektif dan direkomendasikan untuk Covid.

“Lebih dari 600 uji klinis di seluruh dunia saat ini sedang dilakukan dengan berbagai jenis obat, yang sebagian besar merupakan repurposing obat atau obat yang sudah ada untuk indikasi lain sebagai terapi covid-19,” kata Djoko, Selasa (6/4).

Uji klinis merupakan tahap penting untuk membuktikan manfaat bagi manusia. Selesai praktik klinis yang baik untuk memastikan data yang dilaporkan akurat, dapat diandalkan, menjamin integritas dan kerahasiaan hak subjek uji dilindungi.

Tidak ada antivirus covid baru yang telah mendapat persetujuan dari otoritas obat negara bagian, termasuk BPOM. Obat yang digunakan masih dalam Emergency Use Authorization (EUA) atau sedang dipertimbangkan dalam kondisi darurat dan belum ada obat yang tersedia.

Beberapa obat yang sudah ada sebelumnya yang banyak digunakan dalam terapi covid termasuk chloroquine / hydroxychloroquine, lopinavir / ritonavir, ribavirin, oseltamivir, umifenovir, remdesivir, dan favipavir / avigan).

“Keuntungan menggunakan repurposing obat mempercepat penemuan obat karena bisa langsung dilakukan uji klinis fase III karena diketahui aspek keamanannya,” kata Djoko.

Ahli epidemiologi UGM, dr Riris Andono Ahmad mengatakan, penularan Covid terus terjadi karena penduduk tidak memiliki kekebalan. Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi semakin meningkatkan penularan COVID-19.

Doni menegaskan, saat ini pemerintah sedang menerapkan strategi pengendalian COVID-19, di antaranya melalui penerapan 3M, 3T, PSBB, dan vaksinasi. Ia mengingatkan bahwa vaksin merupakan teknologi yang potensial untuk menurunkan angka penularan.

“Vaksin ini tidak serta merta menghentikan pandemi, tetapi sangat efektif dalam menurunkan jumlah kasus baru, morbiditas dan mortalitas,” kata Doni.




Source