Pandemi Corona Secara Signifikan Mengubah Pola Tidur

    Pandemi Covid telah menyebabkan banyak orang mengalami perubahan pola tidur yang signifikan

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Berbagai bencana mulai dari banjir hingga wabah penyakit dapat menimbulkan reaksi umum berupa gangguan tidur. Selain itu, pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak orang mengalami perubahan pola tidur yang signifikan.

    Tak hanya masyarakat awam, gangguan tidur juga dirasakan para profesional medis. Sejumlah dokter di Inggris memulai buku harian tentang tidur, yang mereka mulai lebih dari setahun yang lalu. Kondisi ini diperparah oleh kuncitara.

    John Wright dari Bradford Royal Infirmary mengatakan dia mulai mengembangkan insomnia ketika rumah sakit mulai dipenuhi oleh pasien yang sakit parah. Kekhawatiran tentang kondisi pasien membuatnya semakin sulit untuk tidur nyenyak.

    Wright juga menderita Covid-19. Setelah sembuh, ia masih merasakan beberapa gejala seperti dysgeusia (rasanya aneh seperti logam dan sabun saat makan) dan gangguan penciuman parosmia.

    Dia juga merasa sedikit pelupa. “Yang paling menyebalkan, tidur saya jadi sangat terganggu. Bangun berkali-kali dengan membalikkan badan sambil menunggu untuk kembali tidur,” kata Wright.

    Pakar tidur menyebut gejala tersebut sebagai “Covid-somnia” atau “coronasomnia” untuk menggambarkan berbagai gangguan tidur selama Covid-19. Kuncitaraperubahan pada rutinitas normal, dan kecemasan terinfeksi virus juga berkontribusi padanya.

    Direktur klinis perawatan darurat Bradford Royal Infirmary, Sam Khan, juga mengembangkan sejumlah kondisi setelah tertular Covid-19 pada 24 Maret 2020. Dia tidak bekerja selama lima bulan untuk pulih.

    Setelah dinyatakan negatif corona, Khan masih sering merasa sesak, lelah, dan sulit fokus. Dia kesal karena sebelumnya dia mahir menganalisis informasi dan membuat keputusan cepat, penting bagi dokter di bangsal yang sibuk.

    Sejak divaksinasi pada Desember 2020, kondisi tidurnya semakin memburuk, meski tidak ada bukti hubungan kausal dengan vaksin tersebut. Tidak peduli jam berapa dia pergi tidur pada waktu normal, dia bangun terlalu pagi.

    Khan tidur pukul sembilan dan tetap terjaga pukul tiga pagi, lalu butuh 1,5 jam untuk kembali tidur. Dia mulai minum antihistamin, obat penenang ringan, sebelum tidur. “Tapi jika saya lupa minum antihistamin, saya akan bangun jam tiga pagi. Aneh,” kata Khan.

    Padahal, tidur merupakan bagian penting dari kesehatan fisik dan mental. Ini menjadi waktu penyembuhan saat tubuh memperbaiki dirinya sendiri dan pikiran memproses serangkaian rangsangan di siang hari.

    Tidur juga penting untuk sistem kekebalan tubuh. Tidur nyenyak di malam hari dapat membantu memaksimalkan respons kekebalan Anda terhadap vaksin. Dokter lain, Paul Whitaker, menanggapi kondisi sulit tidur yang dialami rekan-rekannya.

    Dia mengatakan bahwa pasien Covid-19 dengan gejala jangka panjang mungkin akan sulit tidur. Sebaliknya, ada juga yang tidur berlebihan hingga 17 jam sehari karena badannya terasa sangat lelah.

    Kemungkinan lain, kombinasi keduanya. Seseorang tidur di siang hari dan karenanya mengalami masalah tidur di malam hari, terkadang dipicu oleh faktor lain seperti sesak napas atau mimpi buruk.

    Namun, Whitaker mengatakan tubuh setiap orang selalu berusaha untuk pemulihan, meski waktunya bisa berbeda-beda. Dia mencontohkan salah satu pasien Covid-19 yang ditanganinya. “Akhirnya dia bisa tidur nyenyak dan kabut otak mulai menghilang, pemulihan terjadi pada waktunya,” kata Paul, dikutip dari laman tersebut. BBC.




    Source