Pandemi, Peluang Wisata Halal Meningkat

    Wisata halal tidak dimaksudkan untuk dikotomi destinasi wisata eksklusif.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pandemi Covid-19 merupakan peluang untuk melahirkan pariwisata halal yang sejak lama didorong untuk dapat berkontribusi dalam pengembangan industri pariwisata. Pasalnya, tuntutan yang muncul pada pariwisata selama pandemi sejalan dengan konsep wisata halal.

    Ketua Umum Perhimpunan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan mengatakan, pandemi menuntut pariwisata diarahkan ke arah pengunjung yang lebih bertanggung jawab. Misalnya, menjaga kesehatan dan etika di destinasi wisata. Pariwisata juga mulai mengarah pada tema sehat dan mengonsumsi makanan sehat.

    Konsep wisata halal merupakan layanan tambahan dan fasilitas ramah muslim atau ramah keluarga. Dengan begitu, diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung muslim maupun non muslim, baik individu maupun keluarga.

    “Ini peluang pariwisata halal untuk bangkit lebih cepat karena karakteristiknya sesuai dengan trend mega pariwisata saat ini,” kata Riyanto. Republika.co.id, Senin (19/4).

    Ia juga menegaskan bahwa wisata halal tidak dimaksudkan untuk dikotomi destinasi atau seperti destinasi religi yang eksklusif. Menurutnya, anggapan tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman sehingga perkembangan pariwisata halal kontraproduktif.

    “Ini harus ditata ulang agar benar-benar pariwisata ramah muslim bisa melebur tanpa dikotomi,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Riyanto mengatakan, substansi wisata halal tidak berubah sejak dibahas pada tahun 2012. Oleh karena itu, ke depan para pelaku wisata halal harus bisa memanfaatkan peluang pandemi saat ini untuk mengemas pariwisata ramah muslim secara efektif.

    Menurut dia, potensi pendapatan dari wisatawan mancanegara muslim juga lebih besar dibandingkan wisatawan pada umumnya. Turis Muslim tercatat menghabiskan setidaknya US $ 1.350 per kunjungan, di atas rata-rata turis asing umum sekitar US $ 1.100 per kunjungan.

    Belanja semakin besar bila dikunjungi wisatawan dari Timur Tengah. Riyanto mengatakan, turis dari Timur Tengah rata-rata menghabiskan hingga 2.000-2.500 dolar AS per kunjungan.




    Source