Parlemen Turki Meratifikasi Perjanjian Iklim dengan Perubahan

    Sebanyak 353 anggota parlemen Turki meratifikasi perjanjian dengan suara bulat.

    REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL — Parlemen Turki meratifikasi kesepakatan iklim Paris pada Rabu (6/10). Langkah itu menjadikannya negara G20 terakhir yang melakukannya, setelah bertahun-tahun tertunda.

    Sebanyak 353 anggota parlemen Turki meratifikasi perjanjian dengan suara bulat. Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) saat ini mencantumkan Turki dalam kelompok Annex I, yang digambarkan sebagai negara industri.

    Sebuah pernyataan yang disetujui oleh parlemen mengatakan Turki meratifikasi kesepakatan itu sebagai negara berkembang. Ankara akan menerapkannya selama tidak mengganggu haknya untuk pembangunan ekonomi dan sosial.

    Turki telah menandatangani perjanjian Paris sejak April 2016. Namun, Ankara belum meratifikasi kesepakatan tersebut dengan alasan bahwa itu adalah tanggung jawab negara-negara maju sebagai bagian dari perjanjian, hanya memberikannya lebih banyak tanggung jawab, karena Turki secara historis mengeluarkan sangat sedikit. dari emisi karbonnya.

    Turki juga telah mengajukan proposal kepada Sekretariat UNFCCC di Bonn, Jerman, agar namanya dihapus dari daftar Annex I. Jika Turki dikeluarkan dari daftar negara Annex I, Turki akan dapat memperoleh manfaat dari investasi, asuransi, dan transfer teknologi yang dapat diberikannya sebagai bagian dari perjanjian. Usulan tersebut merupakan agenda sementara Konferensi Perubahan Iklim COP26 yang akan diselenggarakan di Glasgow pada 31 Oktober hingga 12 November.

    Berbicara di parlemen, anggota parlemen oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) Jale Nur Sullu, mengatakan tidak jelas apa hasil dari meratifikasi perjanjian itu sebagai negara berkembang tanpa perubahan status yang disetujui pada konferensi iklim. Sementara itu, anggota Partai Buruh Turki, Sera Kadigil Sutlu, mempertanyakan pemerintah akan meninggalkan proyek industri yang dikritik merusak lingkungan setelah kesepakatan diratifikasi.

    “Apakah Anda akan melarang penambangan logam di Laut Hitam? Akankah Anda menghidupkan kembali proyek-proyek konyol seperti Kanal Istanbul? … Saya tahu Anda tidak akan melakukannya,” kata Sutlu.



    https://www.republika.co.id/berita/r0kx4d368/parlemen-turki-ratifikasi-perjanjian-iklim-dengan-perubahan