PBB: Pemerkosaan Menjadi Alat Politik dan Militer di Tigray

Perserikatan Bangsa-Bangsa membandingkan kondisi Tigray dengan Myanmar pada 2017

REPUBLIKA.CO.ID, TIGRAY – Kepala Urusan Kemanusiaan PBB Mark Lowcock mengatakan pada Selasa (28/4), pemerkosaan dan kekerasan seksual di Tigray, Ethiopia digunakan untuk mengejar tujuan politik dan militer yang dilanda krisis. Dalam sambutannya kepada Dewan Keamanan PBB tentang perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata, Lowcock mengatakan kejadiannya sama dengan yang terjadi di Myanmar.

Di sana, pemerkosaan sengaja digunakan untuk memaksa ratusan ribu orang Rohingya keluar negeri pada tahun 2017. Perempuan korban pemerkosaan secara sistematis diatur oleh pria berseragam di depan keluarga dan anak-anak.

“Itulah yang kami lihat dalam enam bulan terakhir di utara Ethiopia. Pemerkosaan di sana tidak berhenti. Pemerkosaan diatur dengan jelas, ditargetkan dan berdasarkan etnis. Tidak hanya itu, mereka meneror, menghina, dan brutal,” kata Lowcock Monitor Timur Tengah, Kamis (29/4).

Wilayah Tigray telah menjadi sorotan internasional sejak 4 November, ketika terjadi operasi penegakan hukum besar-besaran terhadap Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Pada 3 November 2020, pasukan TPLF menyerang Komando Utara pasukan pertahanan Ethiopia yang ditempatkan di negara bagian regional Tigray, termasuk ibu kota Mekele. Insiden itu menewaskan tentara dan menjarah perangkat keras militer yang cukup besar.

Pada 28 November, Perdana Menteri Abiy Ahmed mengakhiri operasi militer tetapi terkadang pertempuran berlanjut di negara bagian tersebut. Ratusan ribu orang telah mengungsi dan lebih dari 60 ribu telah melarikan diri ke negara tetangga Sudan.




Source