PEMBANGUNAN GEDUNG SIKIM ALAMI KETERLAMBATAN

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Pembangunan 2 (dua) unit gedung kembar Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (SIKIM) yang berada dikawasan areal lahan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang menggunakan gelontoran bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Industri tahun anggaran 2018 dengan pagu senilai Rp 7,6 Miliar, dengan pelaksana pekerjaan dipercayakan kepada rekanan kontraktor pelaksana PT Bima Sakti, sejauh ini progress fisiknya mencapai sekitar 40% namun terjadi keterlambatan pekerjaan (Deviasi) yang cukup signifikan mencapai sekitar 30%, sehingga perlu dilakukan penggenjotan secara maksimal agar volume pekerjaannya dapat terkejar dan hal ini telah disampaikan kepada rekanan kontraktor pelaksana, ungkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan UKM Kabupaten Sumbawa Ridwansyah ST dalam keterangan Persnya kepada Gaung NTB Sabtu (06/10) kemarin.
Dari hasil evaluasi dan monitoring yang dilakukan terhadap pelaksanaan proyek pembangunan dua unit gedung kembar SIKIM tersebut terang PPK Ridwansyah, diakui memang ada deviasi pekerjaan yang cukup besar dan faktor penyebabnya karena memang dalam pelaksanaan pekerjaannya ada keterlambatan, terutama menyangkut terlambat datangnya sejumlah material baja yang dibutuhkan dalam menunjang pekerjaan fisik dilapangan, dimana pekan kemarin material baja tersebut telah datang dilokasi dan langsung dilakukan fabrikasi bagi perakitan, sehingga mulai Sabtu kemarin telah mulai dilakukan pemasangan pada item pekerjaan kolom bangunan yang diperlukan sesuai dengan bestek gambar yang ada, tukasnya.
“Pekerjaan pemasangan baja tersebut akan memakan waktu sekitar dua minggu lamanya, karena itu kami telah menyarankan dan meminta kepada rekanan kontraktor pelaksana untuk mengejar ketertinggalan agar dapat menggunakan metode kerja yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan schedule pekerjaan yang telah dibuat sebelumnya, disamping jumlah tenaga kerja, waktu kerja dan sock pasokan material yang dibutuhkan dalam keadaan ready dilapangan, sehingga kedepan deviasi pekerjaan dapat terkejar, dan tentu kami berharap proyek tersebut dapat selesai tepat waktu sesuai dengan kontrak,” pungkas PPK Ridwansyah.
Sementara itu Kadiskoperindag dan UKM Sumbawa Drs H Arif M.Si sebelumnya kepada Gaung NTB menjelaskan kalau pembangunan gedung kembar SIKIM itu dibangun berdampingan dan berkelanjutan dari Sains & Techno Park (STP) yang ada di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), itu berupa pembangunan gedung pengelola dengan fasilitas lainnya ditambah sebagian peralatan, dari rencana 3 (tiga) tahun pembiayaan yang dilakukan secara berkelanjutan menggunakan sistem “Multi Yes”, dengan maksud dan tujuan dari keberadaan gedung dimaksud diharapkan kedepan akan dapat melakukan pengolahan sampai dengan pakacging atau sampai dengan hasil akhirnya itu adalah untuk bisnis plantnya bagi pengembangan potensi sumberdaya alam rumput laut dan daging.
Untuk rumput laut sebagaimana diketahui bahwa Sumbawa ini termasuk rumput laut yang bagus dari jenis cotoni, dan saya merasa miris kata Haji Arif akrab pejabat senior Pemda Sumbawa ini disapa, selama ini melihat petani dan masyarakat pelaku yang bergerak disegmen rumput laut umumnya mereka adalah membudidayakan, memanen, mengeringkan kemudian menjual gelondongan, tentu saja ini sangat sedikit kesejahteraan masyarakat karena nilai dan hasil yang diperoleh tidak sesuai, oleh karena itu dibuat semacam analisis jika itu ditangkap, ditahan dalam bentuk proses tertentu baru dijual pasti nilainya bertambah, selain dari nilai juga ini keterjangkauan tenaga kerja, jadi kalau dari nelayan atau petani rumput laut kemudian dia geser kesegmen tertentu yang mengolah, maka akan tercover tenaga kerja disitu dan seterusnya, semakin panjang rantainya maka semakin banyak orang terlibat, itu idealnya.
Demikian pula dengan daging sambung Haji Arif, kenapa harus daging karena Sumbawa dikenal sebagai gudang ternak, yang selama selama ini ternak besar seperti kerbau,sapi dan kuda banyak yang dikirim hidup-hidup keluar daerah, jadi disini rantai bisnisnya adalah penghasil dalam hal ini peternak dengan pembeli (user), kita tidak tangkap dengan industri yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dengan sikim ini bermaksud sebagai instrumen yang membuat masyarakat banyak beraktivitas dengan nilai akan tinggi, dimana kaitan antara sikim dan sains techno park adalah inkubator sebagai tempat melakukan studi, ujicoba dan kalau lolos bisnis plant rencana usahanya, maka diluncurkan ke sentra industri kecil dan industri menengah (Sikim) untuk mengolahnya, termasuk pengkajian mengenai hilir siapa yang butuh barangnya, kualitas seperti apa yang diinginkan itu dan seterusnya, itu dicoba pada inkubator, sehingga potensi pengolahan rumput laut itu nantinya akan dijadikan beragam keragenan (tepung) maka turunan tepung tersebut bisa menjadi beraneka macam yang bisa dibuat seperti roti, permen dan ragam lainnya tergantung keinginan pembuatnya, dengan tetap mendorong peningkatan mutu dan kualitas yang dihasilkan seperi daging bisa dibuat corner kaleng dan lain sebagainya dengan pilihan daging tertentu, paparnya.