Pembelajaran tatap muka harus hati-hati

    PTM harus melihat kondisi penyebaran pandemi Covid-19 di suatu daerah.

    REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin mengingatkan, proses pembelajaran tatap muka sekolah yang rencananya akan segera digelar harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Penerapannya, kata Arumi, harus melihat kondisi penyebaran pandemi Covid-19 di suatu daerah. Artinya harus dipastikan apakah kawasan tersebut berada pada zona merah, kuning, atau hijau.

    “Pandangan saya tentang pembelajaran tatap muka sekolah harus dilakukan dengan sangat hati-hati di tengah pandemi Covid-19 yang belum hilang di Indonesia,” kata Arumi di Surabaya, Minggu (11/4).

    Arumi melanjutkan, meski masuk kawasan masuk zona hijau Covid-19, sekolah tetap harus berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 dan pihak terkait layak tidaknya mengadakan pembelajaran tatap muka. Apalagi jika kawasan tersebut masih berstatus zona Covid-19 berwarna merah atau oranye.

    Arumi mengingatkan kurva penyebaran Covid-19 masih cenderung fluktuatif. Kalaupun nanti akan digelar pembelajaran tatap muka, ia mengingatkan agar pembelajaran benar-benar dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) yang sangat ketat.

    Ia juga berharap para guru dan pendidik dapat bersabar dalam memberikan layanan edukasi kepada siswa baik secara online maupun tatap muka di tengah pandemi Covid-19. “Saya berharap para guru dan pendidik terus melaksanakan Prokes jika nantinya dilakukan pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi menegaskan kesiapannya mengadakan pembelajaran tatap muka (PTM) di tahun ajaran baru 2021/2022, tepatnya Juli 2021. Apalagi, Jawa Timur sudah mulai tatap muka. menghadapi uji coba pembelajaran sejak Agustus 2020, yang diakuinya berjalan lancar. .

    “Kami tingkatkan kapasitas dari bulan ke bulan. Jadi pada Juli 2021 kami berharap pembelajaran tatap muka di Indonesia, termasuk di Jawa Timur sudah siap mulai sekarang,” kata Wahid.

    Wahid mengungkapkan, hanya empat daerah di Jawa Timur yang belum melaksanakan pembelajaran tatap muka, khususnya untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB. Yaitu Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Surabaya, dan Kota Malang. Keempat daerah tersebut belum melaksanakan PTM karena belum ada rekomendasi dari kepala daerah.

    Syaratnya harus ada rekomendasi dari bupati / walikota termasuk rekomendasi dari satgas penanganan Covid-19 kabupaten / kota, kata Wahid.

    Beberapa aturan yang digariskan oleh Wahid, terutama dalam penerapan protokol kesehatan saat diadakan pembelajaran tatap muka. Diantaranya adalah pembatasan jumlah siswa yang masuk kelas dengan kuota 25 hingga 50 persen.

    Kemudian, pembelajaran tatap muka hanya berlangsung selama tiga jam. Artinya setelah selesai proses belajar mengajar, siswa harus langsung pulang. Selain itu, kantin sekolah harus tetap ditutup dan siswa diharapkan membawa bekal makanan dari rumah.

    “Jadi di kelas itu hanya bisa ada 9 sampai 18 siswa. Biasanya 36 siswa. Guru tidak boleh mondar-mandir saat mengajar. Jadi mereka hanya bisa diam di tempat dan menjaga jarak dengan siswa,” kata Wahid.




    Source