Pemerintah Irak Menyalahkan Warganet yang Meningkatnya Kasus Covid-19

    Warga dinilai jarang memakai masker dan terus menggelar pertemuan besar.

    REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD – Kementerian Kesehatan Irak telah memperingatkan konsekuensi mengerikan dengan tidak mematuhi langkah pencegahan virus corona. Warga dianggap lalai dalam mematuhi aturan yang direkomendasikan pemerintah.

    Irak mencatat 8.331 kasus virus baru dalam periode 24 jam Rabu, angka tertinggi sejak Kementerian Kesehatan mulai mencatat pada awal pandemi tahun lalu. Jumlah tersebut dua kali lipat jumlah infeksi baru dari bulan lalu dan jauh di atas puncak sebelumnya sekitar 6.000 pada bulan Maret.

    Angka kematian masih tergolong rendah dibandingkan infeksi baru. Sedikitnya 14.606 orang telah meninggal dari total 903.439 kasus.

    Lonjakan tajam jumlah kasus mendorong Kementerian Kesehatan mengeluarkan peringatan besar dalam pernyataannya pada Kamis (8/4). Badan tersebut mengatakan peningkatan itu karena kelemahan di antara warga Irak yang mengabaikan langkah-langkah pencegahan.

    Komitmen publik untuk memperhatikan langkah-langkah pencegahan virus hampir tidak ada di sebagian besar Irak. Warga dinilai jarang memakai masker dan terus menggelar pertemuan besar.

    Kementerian Kesehatan mengatakan mereka yang terus mengabaikan tindakan pencegahan dan instruksi bertanggung jawab atas peningkatan jumlah infeksi. Pemerintah meminta para pemimpin suku, aktivis, dan tokoh berpengaruh untuk angkat bicara dan menginformasikan kepada publik tentang parahnya pandemi.

    Irak mulai memberikan vaksin pada akhir Maret. Namun, peluncurannya lambat karena permintaan yang rendah. Banyak warga Irak yang curiga terhadap vaksin tersebut dan hanya sedikit yang telah membuat janji untuk menerima suntikan. Desas-desus tentang efek samping yang melemahkan juga membuat marah banyak orang.

    Kementerian Kesehatan telah mengimbau warga untuk menerima suntikan vaksin. Vaksinasi dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan wabah.

    sumber: ap




    Source