Pemuda Hidayatullah Tegal Gelar Diklat Jurnalistik

    Pemuda Hidayatullah memiliki satu program kabupaten atau kota, satu penulis.

    REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL — Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Tegal menggelar pelatihan jurnalistik bertema “Melatih Keterampilan Jurnalis, Menjadi Pemuda Muslim Cerdas dan Militan”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Tegal, Jawa Tengah, dengan sistem hybrid, Sabtu (31/7).

    “Pelatihan jurnalistik ini merupakan bagian dari program utama yang dilakukan oleh Pemuda Hidayatullah se-Indonesia dan pada kesempatan ini diadakan di Tegal Jawa Tengah. Tujuan dari kegiatan ini untuk mendorong semangat anak muda untuk belajar dalam hal menulis. , mereka lebih sadar dan progresif dalam berdakwah kepada masyarakat melalui jurnalistik,” jelas Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Tegal, Agus Rivai dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

    Hadir sebagai narasumber Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah Yusran Yauma yang mengisi materi secara offline. Selain itu, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi hadir secara online dalam kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta offline dan online tersebut.

    Yusran Yauma pada sesi pertama menjelaskan bahwa menulis berita atau jenis tulisan jurnalistik lainnya adalah yang paling mudah dipelajari dan diterapkan.

    “Jurnalisme itu mudah, baik dalam mempelajari maupun mengamalkannya. Hanya perlu konsistensi, agar tulisan jurnalistik kita bisa bermanfaat secara luas bagi masyarakat,” jelasnya.

    “Kuncinya sederhana, tulislah dengan kemampuan yang kita miliki. Bahkan satu tulisan yang sudah jadi lebih berharga dan bisa dinilai dengan jujur, daripada 1.000 tulisan yang belum selesai yang menjadi tumpukan file di laptop,” ujarnya yang disambut tepuk tangan. oleh gelak tawa penonton.

    Sementara itu, Imam Nawawi lebih menitikberatkan pada penyadaran generasi muda umat Islam terhadap tantangan umat Islam yang sangat sedikit yang gemar membaca dan menulis.

    “Penulis muda Muslim masih sangat sedikit. Ini bisa dilihat di Google dan berbagai website yang melaporkan kegiatan dan pemikiran pemuda Muslim. Oleh karena itu, pelatihan ini menjawab kekosongan tersebut,” ujarnya.

    “Tetapi, lebih jauh lagi, jika Anda ingin menjadikan tulisan sebagai jalan kebaikan, jalan kemuliaan, maka Anda harus menulis ini dengan niat yang benar, niat yang tulus dan ikhlas karena Allah, sehingga kami akan terus menulis. Dan, karena itu rajinlah membaca dan berdiskusi, sehingga kita bisa memberi warna pada kehidupan masyarakat, apalagi di era digital seperti sekarang ini,” ujarnya.

    Ia menambahkan, boleh saja keinginan untuk menulis setiap hari, misalnya 30 hari tanpa henti menulis. “Tapi jangan dilakukan setelah 30 hari tidak berhenti, kemudian ternyata kegiatan menulis tidak bekerja secara total lagi. Tirulah para ulama kita yang dulu terus menulis untuk kemajuan ummat,” jelasnya lebih lanjut.

    Kegiatan ini mendapat respon positif dari para peserta, termasuk Mbak Ima.

    “Senang ada pelatihan menulis di hari libur. Dulu saya ikut beberapa komunitas menulis tapi berhenti karena merasa ide menulis terhambat. Alhamdulillah setelah mengikuti pelatihan ini saya termotivasi bahwa menulis juga harus ditujukan untuk ibadah di jalan Allah. Apalagi ini tugas langsung, jadi bisa mengamalkan,” ujarnya.

    Pemuda Hidayatullah secara nasional memiliki program sakotulis yang merupakan akronim dari satu kabupaten atau kota, satu penulis.



    https://www.republika.co.id/berita/qx4b3x374/pemuda-hidayatullah-tegal-gelar-training-jurnalistik