Pemuda Muhammadiyah Sumbawa Soroti Politisasi Bansos

Sumbawa Besar, Gaung NTB

Seiring masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), para pasangan calon mencari cela untuk mengumpulkan dukungan masyarakat dalam situasi pandemi Covid-19 termasuk politisasi Bantuan Sosial (Bansos) Program Pemerintah Provinsi Maupun Kabupaten bahkan ancaman money politik (politik uang) sangat rentan terjadi.

“Ada 2 tipe masyarakat kita, ada yang cerdas artinya bisa menolak segala macam bentuk politik uang serta ada juga masyarakat rentan bisa menerima karena rendahnya tingkat pendidikan serta kemiskinan apalagi dimasa pandemi Covid 19 banyak masyarakat butuh makan menjadi ancaman terbesar sebagai sasaran empuk,” Ini disampaikan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumbawa Ubaydullah MPd kepada Gaung NTB senin (12/10).

Menurutnya, politisasi program pemerintah jelas melanggar Undang-undang Pemilu, oleh karena itu segala bentuk program pemerintah tidak boleh ditunggangi oleh salah satu paslon yang dapat merugikan calon lain.

Ia menyebutkan, Pilkada ini diperparah lagi adanya pemberian paket, hadiah atau soevenir oleh calon tertentu jelas-jelas saat kampanye tentunya melanggar etika.

Ubaydullah menjelaskan, paslon silahkan tawarkan program bukan menjual setiap diri dengan barang yang begitu murah sehingga masyarakat menilai bahwa mereka dibeli, sikap seperti ini adalah bentuk pendustaan dan menciderai demokrasi.

Lebih jauh, Pilkada merupakan sarana edukasi politik bagi masyarakat yang akan melahirkan pemimpin berintegritas, jujur, amanah dan pelayan masyarakat.

Harapannya mari jaga Pilkada ini agar aman, sehat, damai terbebas dari kecurangan, pesannya kepada timses tidak boleh lakukan provokasi dan kampanye hitam, mari rebut hati rakyat melalui ide dan gagasan serta visi misi paslon untuk pembangunan Sumbawa.

Para calon kandidat Pilkada 2020 diharapkan dapat menjawab persoalan masyarakat hari ini khususnya menghadapi pandemi Covid-19, selain itu juga masyarakat harus cerdas dan kritis agar tidak terjebak dalam money politik.

“Semua masyarakat di era pandemi sangat berharap betul kepada calon kepala daerah yang terpilih bisa menjawab persoalan yang mendesak hari ini. Bagaimana mereka bisa menawarkan visi dan misi yang bisa membebaskan dari pandemi Covid-19 dan daerah bisa bangkit secara ekonomi, itu harus clear bisa diungkapkan oleh para kandidit. Inilah yang mendesak hari ini. jadi ya masyarakat bisa memilih yang betul, bukan hanya iming-iming. Karena jelang pilkada sekarang agak bahaya, ekonomi lagi krisis, tingkat pendapatan masyarakat rendah, maka pilkada ini sangat rentan sekali dengan money politik dan kondisinya seperti sangat ditunggu.” Demikian pungkasnya. (Gks)