Penanggulangan Terorisme Melalui Gurindam 12

    Radikalisme dan terorisme tidak boleh dilakukan karena tergolong larangan dari Allah

    REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG – Pengamat budaya dari Provinsi Kepulauan Riau Abdul Malik menjelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ayat Gurindam 12 dapat menangkal ekstremisme dan terorisme.

    “Sejumlah pasal dalam Gurindam 12 yang ditulis Raja Ali Haji mengandung nilai-nilai yang menolak intoleransi, kekerasan, radikalisme dan terorisme,” kata Malik yang juga mantan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Maritim Raja Ali Haji itu. , di Tanjungpinang, Sabtu (10/4).

    Ia menjelaskan bahwa Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal I ayat 3, mengingatkannya, “Barangsiapa mengenal Allah, katakan padanya untuk kuat dan dia tidak akan salah”. Artinya radikalisme dan terorisme tidak boleh dilakukan karena tergolong larangan (tegas) dari Tuhan.

    “Allah melarang manusia menyebabkan kerusakan di muka bumi. Dengan demikian, radikalisme dan terorisme jelas-jelas tidak dibenarkan oleh Tuhan,” tandasnya.

    Radikalisme dan terorisme, menurutnya terjadi karena amarah yang tidak terkendali. Sikap ini berkaitan dengan Gurindam 12, Pasal IV, bait 4. Bait itu berbunyi, “Jangan membela pekerjaan yang marah, dan pikiranmu akan kehilangan akal.”

    Praktik radikalisme dan terorisme menunjukkan gejala pelakunya, seperti tidak bisa menggunakan akal sehatnya, sehingga kemarahannya ditimbulkan dengan cara merugikan orang lain. Tingkah laku kekerasan dalam tindakan radikalisme juga menunjukkan bahwa pelakunya berperilaku buruk.

    Sehubungan dengan hal ini, Gurindam 12, Pasal V ayat 3, berbunyi, “Jika Anda ingin mengenal seorang yang mulia, perhatikan perilakunya.” “Tindakan (perilaku) radikal dan terorisme adalah perilaku buruk karena menimbulkan kerusakan. Jadi, menurut Gurindam 12, pelakunya bukan orang yang mulia,” ucapnya.

    Orang-orang yang melakukan tindakan radikalisme dan terorisme juga digolongkan sesat menurut Gurindam 12. Hal tersebut tertuang dalam Pasal VII ayat 3 yang berbunyi: “Jika kita kekurangan taktik, itu tandanya pekerjaan kita sesat”.

    Menurutnya, pelaku kejahatan radikal dan teror dikategorikan sesat karena berpikiran pendek dan tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakannya terhadap orang lain. Padahal, pelaku teror juga tergolong manusia yang telah dirasuki setan.

    sumber: Antara




    Source