Pencabutan Stimulus Listrik Akan Berat Bagi Masyarakat

    Pemberian stimulus listrik yang terus menerus memicu risiko finansial bagi PLN.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah resmi mencabut stimulus tarif listrik bagi pelanggan 450 VA dan 900 VA bersubsidi yang selama pandemi menikmati diskon. Mulai Juli, masyarakat akan membayar tagihan listrik secara normal sesuai tarif listrik yang berlaku.

    Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menjelaskan, menghapus stimulus listrik di masa pandemi ini merupakan keputusan yang berat. Sebab, perekonomian belum sepenuhnya pulih. Apalagi di masa pandemi, masyarakat yang terdampak dan menjadi pengangguran semakin bertambah.

    “Kebijakan ini pasti akan menambah beban masyarakat yang belum pulih akibat pandemi. Perekonomian masyarakat masih belum normal karena masih banyak pengangguran yang terdampak pandemi. Jadi ini keputusan yang cukup berat,” kata Mamit, kepada Republika, Jumat (4/6).

    Namun, jika stimulus ini diteruskan, beban keuangan negara justru akan semakin berat. Apalagi beban stimulus ini ditanggung sepenuhnya oleh PLN dan pemerintah menggantinya dengan skema kompensasi. Kondisi keuangan negara dan kondisi keuangan PLN yang masih terpengaruh akan terancam.

    “Di sisi lain, keuangan negara juga tidak dalam kondisi baik karena pandemi. Kebijakan ini juga dapat membantu PLN di tengah kondisi keuangan yang meski menguntungkan, namun beban utangnya semakin besar,” kata Mamit.

    Meski stimulus Covid-19 dicabut, Mamit berharap Pemerintah tidak terburu-buru menyesuaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan tetap memberikan subsidi bagi pelanggan 450 VA. Sebab, kedua kebijakan ini akan sangat membantu nasabah.

    “Saya juga menyarankan agar PLN mendaftarkan ulang masyarakat yang berhak menerima subsidi ini. Jangan sampai rumah kost atau rumah kontrakan sengaja dibubarkan agar mendapatkan golongan 450 VA. Jadi perlu ada pendataan ulang. ,” kata Mami.



    https://www.republika.co.id/berita/qu6k3n328/pencabutan-stimulus-listrik-pasti-beratkan-masyarakat