Pengusaha Bus Sumatera Minta Pemerintah Serius Tegakkan Hukum

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perjalanan roadshow tim PerpalZ TV selama tiga minggu dari Jakarta ke Lampung hingga Pekanbaru dan Medan ke sejumlah pengusaha transportasi di Sumatera menemukan banyak temuan menarik.

Temuan yang didapat dalam kegiatan #PerpalZGoestoSumatra meminta Pemerintah untuk serius melakukan pembenahan dan penegakan hukum di lapangan demi kelangsungan bisnis angkutan darat di kawasan ini.

“Ada beberapa kendala yang menonjol selama perjalanan 3 minggu kami mengunjungi sejumlah bus PO di Sumatera,” kata Kurnia Lesani Adnan, pembawa acara Perpalz TV.

Misalnya kondisi infrastruktur jalan yang rusak, solar yang terbatas, ranting pohon dan kabel listrik atau telepon yang terlalu rendah sehingga ‘tersangkut’ di atap bus, mobil plat hitam yang mengangkut penumpang umum, hingga kesiapan. daerah dalam mengembangkan pariwisata.

“Tapi masalah terbesarnya adalah penegakan hukum untuk transportasi darat,” ujarnya, Kamis (8/4/2021).

Baca juga: Kisah PO NPM, perusahaan bus tertua di Sumatera Barat, telah beroperasi sejak jaman penjajahan Belanda

Sani menjelaskan, penegakan hukum di bidang transportasi darat diperlukan karena di lapangan banyak terdapat mobil plat hitam yang mengangkut penumpang umum. Selain itu, bus regional lainnya juga banyak yang beroperasi di Sumatera.

Tim Perpalz TV berbincang dengan pemilik PO Medan Jaya saat berkunjung ke Medan, 29 Maret 2021.

“Kalau melihat terminalnya, banyak bus yang beroperasi dengan plat nomor dari provinsi yang bukan dari Sumatera, misalnya bus dari Jawa. Bus tersebut melayani trayek di Sumatera, bukan trayek di tempat asalnya,” kata Sani.

Baca juga: Hino Luncurkan Bus Chassis US R260 with Air Suspension, harga eceran Rp 951 juta

Ada juga perusahaan bus yang sudah lama tidak terdengar kabarnya, tiba-tiba muncul kembali dengan armada dengan kondisi dan plat regional yang berbeda-beda.

Baca juga: Pandemi juga melanda bisnis transportasi PO Gumarang Jaya dan Puspa Jaya Lampung

Meski pemerintah melarang orang bergerak, namun orang tetap beraktivitas dengan menggunakan alat transportasi lain, yaitu mobil plat hitam. Masyarakat menggunakan pelat hitam untuk mencegah petugas menyerang mereka.

Baca juga: Pengemudi Bus Masih Menghadapi Kelangkaan Tenaga Surya Di Seluruh Sumatera, Mereka Harus Membawa Jerigen

Kondisi ini mengancam kelangsungan bisnis angkutan bus. PO yang selama ini diketahui sudah lama tidak aktif, tiba-tiba menggunakan bus dari Jawa untuk beroperasi di Sumatera. Kemudian muncul lagi jasa travel yang menggunakan mobil MPV, jelasnya. Sani.




Source