Persetujuan Induk Penetapan PTM di Kabupaten Bekasi

Durasi waktu studi akan berkurang selama PTM di Kabupaten Bekasi

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI – Menjelang penyelenggaraan sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Bekasi terus melakukan persiapan secermat mungkin. Salah satu upayanya adalah penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Namun determinan lainnya adalah persetujuan orang tua siswa. Ini merupakan syarat untuk menyelenggarakan sekolah atau tatap muka pendidikan (PTM).

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Pertama (MKKS) Kabupaten Bekasi Rija Sudrajat mengatakan, pihaknya sudah mendapat arahan langsung dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bekasi jelang tatap muka sekolah SMP.

Selain dari protokol kesehatan (prokes) yaitu izin dari orang tua. “Hal terakhir yang disampaikan Dinas Pendidikan selain prokes adalah harus ada ijin orang tua. Padahal persyaratan lengkap kita sudah lengkap, orang tua tidak setuju, tatap muka tidak diadakan untuk siswa,” katanya. ujarnya, Kamis (20/5).

Namun, lanjutnya, persetujuan orang tua siswa juga merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan tatap muka sekolah yang dijadwalkan awal Juli 2021. Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi mengakui akan ada sejumlah langkah penting yang harus dilakukan. diambil.

Selain izin orang tua, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi Carwinda menegaskan, ada poin lain, yakni terkait tenaga pengajar.

Ia menyebutkan, sekolah tatap muka akan dimulai pada tahun ajaran baru. Pedoman tersebut merupakan ketentuan dari Menteri Pendidikan, dimana salah satu pokoknya adalah guru harus sudah divaksinasi.

“Dalam hal ini, mungkin kita akan berjalan dengan dua kelompok. Untuk guru yang belum divaksinasi dia akan ajarkan secara online kemungkinan itu. Bagi yang sudah divaksinasi dia akan memberikan pelajaran tatap muka meski dengan persentase kecil apakah 50 persen atau di bawahnya. 50 persen di bawah kehadiran anak-anak, “katanya.

Selain itu, pada saat pembelajaran tatap muka, durasi kegiatan belajar mengajar juga akan berkurang. “Kalau dulu waktu normal 40 menit mungkin bisa 20 menit yang sudah pasti. Kami berusaha semaksimal mungkin lari tatap muka. Mereka terlalu jenuh (siswa) dan istilah dalam ilmu disebut hilang belajar, maka namanya hilang saat belajar, jadi menurut saya tidak mungkin begitu saja seperti membaca Google, ”ujarnya.




Source