Persyaratan Sholat Jamak dan Qashar

    Sholat qasar bisa dilakukan saat bepergian atau bepergian.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sholat qasar bisa dilakukan saat bepergian atau bepergian. Niat sholat qasar saat takbiratul ihram dan pastikan imam yang kita sholat di belakang dalam keadaan safar dan dan melakukan sholat qashar.

    Syarat shalat jamak adalah perjalanan langsung, mengutamakan shalat pertama saat jamak takdim. Adapun bentuk jamak terakhir, kita memiliki pilihan untuk mengutamakan doa pertama atau kedua.

    “Syarat selanjutnya adalah niat untuk memperbanyak salat di salat pertama, dan tidak ada jarak yang jauh antara salat pertama dan salat kedua,” kata Ustaz Abdul Jabbar Lc, kepada republik, Selasa (8/9).

    Menurut alumni Jamiah Binoria Alamiah Karachi Pakistan University ini, hal lain yang harus kita ketahui sesampainya di tempat tersebut adalah berapa lama kita bisa mengqadha atau memperbanyak shalat sesampainya di tempat tujuan. Apakah kita masih terhitung dalam keadaan Safar ketika kita sudah sampai di tempat tujuan.

    “Atau kita sudah berubah, beralih menjadi mukim di mana tidak ada lagi semangat atau izin bagi kita untuk jamak atau membaca doa kita dan ini tentu harus menjadi perhatian,” katanya.

    Seperti yang telah dikutip oleh para imam fiqh termasuk Imam An Nawawi dalam kitabnya minhajut tholibin dan Al Imam Ar Rafi di dalam buku al-muharrar dan dikumpulkan oleh As Syaikh Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Nafi al-Mishri dalam kitab umdatul masalik wa ‘idda Tun naasik.

    “Dibolehkan bagi orang yang telah tiba di tempat tujuan dalam perjalanan untuk mengqadha atau mengqadha shalat hingga 4 hari di luar waktu masuk ke tempat tujuan dan meninggalkan tempat tujuan,” ujarnya.

    Adapun orang yang berniat menetap ketika sampai di tempat tujuan, tidak ada rukhsah dalam perjalanannya. Lain halnya dengan orang yang memiliki keinginan tertentu yang mereka cari di tempat tujuan.

    “Ulama kami mengatakan bahwa jika seseorang memiliki niat tertentu di tempat tujuannya, dia masih akan dihitung sebagai bepergian hingga 18 hari,” katanya.

    Dan bila ia telah menemukan keinginannya, maka ia bukan lagi seorang musafir, kecuali jika keinginan yang ia miliki itu selalu ditemukan. Dalam hal ini ada beberapa contoh yang dikutip oleh para ulama kita seperti orang yang kehilangan budaknya atau budaknya yang melarikan diri.

    Apakah dia bisa mengqadha shalatnya saat mencari budak?

    Menurutnya, kiai tersebut menganggap dirinya tidak termasuk musafir karena tidak mengetahui tujuan dan keberadaan budak tersebut, atau seseorang yang memiliki keinginan untuk mencari barang tertentu dan ia mendapatkan dari keinginannya setiap hari untuk mencari barang. 18 hari. Jadi dia masih di Safar dan dihitung sebagai musafir.

    “Dan masih banyak lagi contoh yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqih,” ujarnya.

    Safar adalah sunnah Nabi Muhammad SAW, dan dalam berpergian, terutama dari pembahasan shalat jamak dan qashar, masih banyak lagi tata krama bepergian yang harus dipelajari. Jadi jangan hanya puas dengan apa yang kita dapatkan dari satu bab ilmu saja, tapi kita harus lebih semangat dan semangat untuk menggali dan mengoleksi bidang ilmu lainnya.

    “Dan cobalah untuk mengamalkannya dan menyampaikannya kepada saudara-saudara kita yang lain,” ujarnya.



    https://www.republika.co.id/berita/qz1eto430/syarat-untuk-menjamak-sholat-dan-qashar