Petani Tebu Berharap Kenaikan Harga Gula

    Sejak 2016, harga gula di tingkat petani masih Rp 9.600 per kilogram.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Petani Tebu Indonesia (APTRI) berharap pemerintah bisa menaikkan harga beli di tingkat petani. Harapan tersebut diklaim karena kenaikan biaya produksi dan belum ada kenaikan harga dalam lima tahun terakhir.

    “Kami berharap pada musim giling tahun ini ada kebijakan dari menteri perdagangan. Mimpi kami berharap harga di tingkat petani bisa naik menjadi Rp 11.500 per kilogram,” kata Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen. , pada Rapat Kerja Nasional di Jakarta, Jumat (9/4).

    Soemitro mengatakan, pada dasarnya petani menginginkan harga gula murah dengan cara meningkatkan produksi tebu. Namun keinginan tersebut tidaklah mudah karena banyaknya kendala yang dihadapi petani.

    Ia mencontohkan betapa sulitnya petani mendapatkan pupuk bersubsidi. Sementara itu, pupuk non subsidi juga seringkali sulit ditemukan oleh petani. Soemitro mengatakan, masalah pupuk merupakan salah satu kendala yang ada untuk dapat meningkatkan produksi dan menekan biaya produksi.

    “Sekali lagi maaf kalau keinginan kita terlalu tinggi. Namun wajar saja karena sejak 2016 harga gula di tingkat petani masih Rp9.600,” kata Soemitro.

    Menanggapi hal itu, Mendag Muhammad Lutfi mengatakan tingkat rendemen gula pada 2020 sebesar 7,17 persen. Dengan tingkat hasil ini, maka perhitungan harga wajar di tingkat petani adalah Rp 7.614 per kg.

    Lutfi juga meminta para petani bersama Kementerian Pertanian saling berkoordinasi terkait angka ideal hasil dan biaya produksi. Pasalnya, kata Lutfi, kebijakan harga yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan harus memiliki database yang bisa diterima.

    Lebih lanjut Lutfi menjelaskan, hingga Maret 2021 rata-rata harga gula dunia turun ke level Rp 6.426 per kg dari posisi Februari 2021 sebesar Rp 6.469 per kg. Jika pada saat yang sama harga gula dalam negeri dinaikkan menjadi Rp 11.500 dipastikan akan banyak terjadi penyelundupan gula impor.

    “Panjang pantai kita 81 ribu kilometer. Kalau bea cukai dan TNI berbaris hanya bisa 14 persen. Tidak mungkin menutup semuanya. Begitu penyelundupan datang, yang bahagia bukan petani,” ujarnya. .

    Karena itu, Lutfi mengaku belum bisa memperbaiki masalah harga gula tahun ini. Namun, dia berjanji setidaknya akan membuat kebijakan yang adil. Masalah ini juga harus dibahas bersama antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian BUMN dan APTRI.

    “Tugas saya mewakili 270 juta rakyat Indonesia, Pak Soemitro mewakili 2 juta petani tebu. Jadi saya janji kita cari jalan yang adil, saya yakin karena bisa,” ujarnya.




    Source