Pimpinan DPD RI Minta 135 WNA asal India Karantina Selama 2 Minggu

TRIBUNNEWS.COM – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Sultan B. Najamudin meminta Kementerian Karantina Kesehatan memperpanjang masa karantina bagi 135 WNI India yang baru masuk wilayah RI selama dua minggu.

“Kita harus waspada, tapi ini bukti Indonesia belum serius menanggulangi wabah Covid-19 dari luar negeri. Kita berpotensi kebobolan lagi,” kata senator muda asal Bengkulu itu.

Selama ini, kata Sultan, pemerintah sangat serius dan tegas dalam upaya penanggulangan wabah Covid-19 di Tanah Air, sehingga harus membatasi tradisi mudik bagi masyarakat.

“Pemberian ruang bagi WNA yang negaranya sedang dilanda gejolak pandemi sangat kontraproduktif dengan misi penanggulangan pandemi. Selain itu, proses vaksinasi masih dalam ruang lingkup yang kecil,” tambah Sultan.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan batasan tegas bagi kehadiran WNA dari negara tertentu yang dinilai membahayakan keselamatan warga negara.

“Bahwa prinsip ‘Salus Populi Suprema Lex Esto atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi’ harus ditegakkan oleh pemerintah. Jangan main-main dengan keselamatan warga negara, sedangkan kemauan dan proses vaksinasi belum bisa menjanjikan untuk melanggar rantai epidemi Covid-19, “jelasnya. mantan Ketua HIPMI Bengkulu ini.

Sebelumnya, Kepala Subdirektorat Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Benget Saragih, mengatakan Indonesia telah mengunjungi ratusan WNA dari India melalui Soekarno-Hatta. Bandara, Rabu (21/4) malam.

Benget mengaku cukup khawatir dengan kedatangan 135 WNA India itu, karena diketahui India pernah dilanda ‘Tsunami Covid-19’ dalam dua bulan terakhir. Selain itu, India diketahui sedang berjuang melawan mutasi virus SARS-CoV-2 varian B1617 yang mengandung banyak mutasi.

Selanjutnya, setibanya di sana, tes usap PCR dilakukan lagi untuk pelancong internasional dan diharuskan menjalani karantina terpusat selama 5 x 24 jam. Setelah itu dilakukan uji usap PCR kembali untuk kedua kalinya.




Source