Polda Yogyakarta Tetapkan Tujuh Tersangka Penangkapan Penyu Lekang

    REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan tujuh tersangka penangkapan seekor penyu lekang yang dilindungi negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

    Kasubdit Gakkum, Direktorat Polairud Polda DIY AKBP Fajar Pamuji menjelaskan, pengungkapan tersangka diawali dengan munculnya video penangkapan penyu lekang di Pantai Watulawang, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, pada aplikasi Tiktok pada 26 Maret 2021. .

    Dari video viral tersebut, Polda Yogyakarta bersama Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kota Yogyakarta berhasil mengungkap tujuh orang yang diduga menangkap penyu, kata Fajar, saat jumpa pers di Mapolda Yogyakarta, Kamis (22/2). / 4).

    Ia mengatakan, tujuh tersangka, yakni SP (40), SD (38), WD (55), SM (55), WI (36), WS (42), dan IM (47) semuanya warga Kecamatan Tepus, Gunung. Kabupaten Kidul. Berdasarkan keterangan tersangka dan saksi, menurut dia, penyu lekang yang berhasil ditangkap kemudian digunakan untuk konsumsi sendiri oleh tersangka. Dari para tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti yang diduga digunakan untuk menangkap penyu lekang, seperti satu set pancing, sepotong tapi plastik. , pisau panjang 25 cm, tang, spanduk, ember plastik, dan bambu sepanjang 2,7 meter. Salah satu tersangka berinisial SP ini mengaku tidak mengetahui penyu tersebut tergolong satwa langka yang dilindungi negara. SP pun mengaku tidak sengaja joran tersebut melibatkan penyu lekang. Karena tidak bisa mendapatkan hasil memancing, ia lantas mengajak enam orang temannya menangkap penyu untuk dikonsumsi. “Niatnya memakannya. Satu orang mendapat satu kilogram daging,” ujarnya. Atas perbuatannya tersebut, tersangka penangkapan penyu lekang dijerat pasal 40 ayat (2). Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.


    Source