Polemik Studi Polandia, Perlu Disikapi Secara Arif dan Bijaksana

Sumbawa Besar,Gaung NTB
Terkait munculnya pro dan kontra pengiriman mahasiswa ke luar negeri, khususnya ke Polandia atau ke beberpa negara yang berfaham komunis, hal itu harus disikapi secara arif dan bijaksana, hal ini disampaikan anggota DPRD Provinsi NTB, Nuridn Ranggabarani SH, MH, menyikapi polemik terkait dengan sekolah di luar negeri tersebut.
Menurut Nurdin—sapaan akrab Anggota DPRD NTB dari Fraksi PPP itu, bahwa terkiat masalah tersebut perlu penjelasan terbuka dan pencerahan yang komprehensif sehingga informasi tentang hal itu tidak dicerna sepotong-sepotong-sepotong oleh masyarakat.
Menurutnya, masyarakat boleh khawatir tapi tidak kemudian menciptakan ketakutan atau menyebar momok ketakutan yang berlebihan, Namun juga ketakutan sebagian pihak juga tidak boleh dinilai sebagai upaya negatif yang berlebihan pula, karena harus diyakni bahwa masukan yang disampaikan  tersebut adalah bagian dari kecintaan mereka kepada NTB dan kepada daerah ini serta juga merupakan wujud dari kecintaan mereka kepada Gubernurnya agar niat baik dan keringat Gubernur tidak berbuah hal yang sebaliknya.
Sesama komponen NTB kata Nurdin, pendapat kontra tersebut harus dipandang sebagai sebuah masukan berharga yang tentu ada solusi dan jalan keluarnya.
“Sepanjang semua kita lakukan dengan nawaitu yang baik, Insha Allah, ada banyak cara yang dapat kita lakukan bersama untuk tetap mendorong keberlanjutan program ini dengan lebih baik,” ujarnya.
Nurdin mencontohkan, pada saat rekruitmen harus dibuat kesekapakatan dengan para calon penerima beasiswa bahwa ilmu dunia adalah yang kesekian, namun aqidah dan tauhid adalah yang utama. Bila perlu katanya, ada materi khusus terkait hal tersebu. Dimana nilai dari materi tentang aqidah menjadi penentu bagi mereka untuk diterima atau tidak sebagai penerima beasiswa, baik ketika mereka sudah berada di luar negeri maupun saat keberlanjutan mereka juga ditentukan oleh hal tersebut.
“Bahkan kalau memungkin para tuan guru dapat bergantian keliling Eropa untuk pengajian tiap bulan,” ujarnya sambil berseloroh.
Namun demikian lanjutnya, masyarakat tidak perlu menebar momok menakutkan yang berlebihan, karena ada banyak contoh anak-anak muda yang berada di negara-negara minoritas muslim tapi justru menjadi semakin kokoh aqidahnya. Sebaliknya, ada anak-anak muda yang setiap menit berada dalam pelukan kasih sayang dan kehangatan kedua orang tuanya, namun juga kemudian bisa murtad dari agamanya.
“Ada banyak anak-anak muda kita di luar sana yang bertemu dengan anak-anak yang beda agama kemudian mereka bisa mengislamkannya, sebaliknya ada juga banyak anak-anak kita yang tidak kemana-mana, bahkan tidak keluar rumah tapi tiba-tiba lari dari aqidahnya,” jelasnya.
Nurdin menceritakan pengalamannya pada saat berada di Cape Town Afrika Selatan, belum lama ini dia mengaku terharu saat membaca sebuah tugu yang menjulang tinggi di Komplek makam Syaikh Yusuf Al-Makassari, yang tempat itu terdapat sebuah prasasti indah dan megah yang bertuliskan “Inilah makam manusia pertama yang melantunkan dan mengajarkan Al-Qur’an di Bumi Afrika”.
Demikian pula saat dirinya mengunjungi makam Syaikh Tuan Ismail Dea Malela di Simonstown Afrika Selatan, yang kemudian menjadi Imam sholat pertama di Bumi Afrika. “Beliau yang dibuang ke tengah-tengah lingkungan yang semula tak mengenal Islam sama sekali, justru menjadi penyebar Islam yang gigih,” ujarnya.
Dijelaskannya, bahwa bisa jadi kekhawatiran yang selama ini disampaikan masyarakat justru berbuah sebaliknya. Dimana justru anak-anak muda yang sedang belajar di Polandia dan beberapa negara tersebut justru menjdi mujahid-mujahid Islam yang akan mengabarkan dan menyebarkan kejayaan Islam di muka bumi Allah ini. Namun juga sebaliknya, ada yang pernah mondok di pesantren terkenal, melanjutkan kulian di perguruan tinggi Islam di dalam negeri, kemudian menjadi ustadz di pondok, menjadi dai penceramah terkenal, namun akhirnya lari meninggalkan agamanya, bahkan menjadi pendeta yang menghujat Islam.
“Program Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah ini mungkin belum sempurna, mari kita kritisi secara konstruktif, bukan dengan menyebar momok menakutkan agar beberapa sisi lemah yang mungkin menjadi kekhawatiran kita dapat kita tutupi dan kita perbaiki serta kita sempurnakan-bersama-sama,” demikian Nurdin Ranggabrani.