Polres Pamekasan melarang warga pesisir bermain peran

REPUBLIKA.CO.ID,PAMEKASAN – Polisi Pamekasan, Jawa Timur, melarang warga pesisir selatan menggelar kegiatan “Per-role” pada Idul Fitri Ketupat 1442 Hijriah ini, karena menyebabkan massa melanggar protokol kesehatan COVID-19.

“Jika warga terus menggelar kegiatan ‘Per-role’, maka kami akan menindak tegas,” kata petugas Polsek Pamekasan saat berkeliling kawasan pesisir Desa Ambat dan Kramat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Kamis (20/5).

“Per-peran” adalah tradisi tahunan warga yang tinggal di sepanjang pantai selatan Pamekasan setiap Idul Fitri Ketupat, yaitu tujuh hari setelah Idul Fitri 1 Syawal di Tahun Hijriah. Dalam kegiatan tersebut, warga berkeliling desa naik kereta kuda bersama anggota keluarga. Konon kegiatan ini sebagai wujud rasa syukur kepada warga, sekaligus mempererat tali silaturahmi, dengan naik kereta kuda bersama keliling kampung.

Dalam perkembangannya, seiring dengan perkembangan angkutan umum, angkutan yang digunakan warga dalam kegiatan “Per-role” tidak hanya berupa gerbong, tetapi juga becak pick-up. Selain menaiki kereta kuda dan becak keliling kampung, warga pesisir selatan Pamekasan juga merayakan Lebaran Ketupat dengan bermain musik di rumah masing-masing sambil menari riang bersama seluruh anggota keluarga.

“Kami juga melarang itu. Yang jelas kami melarang segala jenis kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian, guna mencegah penyebaran COVID-19,” kata Kapolres Pamekasan AKBP Apip Ginanjar.

Biasanya, kegiatan ‘Per-role’ menyambut Idul Fitri ini dilaksanakan selama dua hari, yakni di hari H Ketupat Lebaran dan keesokan harinya. Sementara itu, berdasarkan pantauan hingga Kamis (20/5) malam, di sepanjang pantai selatan Pamekasan, yakni di Desa Kramat dan Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, hingga Desa Tanjung, Kecamatan Camplong, Sampang, tidak ada satu pun warga yang menggelar acara ‘Per- aktivitas peran. .

Polres Pamekasan juga terlihat menempatkan sejumlah personel gabungan di sepanjang pantai Tlanakan Pamekasan, guna mengantisipasi adanya aktivitas massa yang berpotensi menimbulkan keramaian.


Source