Praktik Baik BDR Pada Anak Tuna Rungu di SDN Hijrah 1 Lape

Sumbawa Besar, Gaung NTB – Belajar Dalam Jaringan  (Daring) menjadi solusi dari Pemerintah, guna melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) selama pandemi virus corona (Covid-19). 

Kegiatan belajar dengan cara Daring memang menjadi alternatif bagi mereka yang mempunyai infrastruktur pendukung. Namun, hal ini berjalan normal hanya dalam beberapa bulan saja, karena setelahnya banyak protes dari kalangan orang tua bahkan siswa itu sendiri.

Karena keterbatasan ekonomi orangtua, banyak sekolah dasar di Kabupaten Sumbawa memilih pembelajaran luar jaringan (luring). Jika Belajar Dari Rumah (BDR) bagi kalangan siswa normal saja mulai membosankan, lalu bagaimana proses ini bisa berjalan bagi siswa berkebutuhan khusus atau difabel (disabilitas)?

Di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), jumlah siswa penyandang disabilitas berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi NTB mencapai 3.298 siswa yang tersebar disekolah negeri maupun swasta, mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Sejak pandemi, para orang tua sibuk untuk mencari solusi lain agar putra-putrinya yang berkebutuhan khusus, bisa memperoleh pendidikan. para orangtua meminta agar guru datang mengajar ke rumah agar anaknya bisa belajar dengan baik.

Menanggapi permasalahan ini, meski bukan Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi (SPPI) namun praktik baik dari SDN Hijrah 1 Desa Hijrah Kecamatan Lape selama Belajar Dari Rumah (BDR) patut dicontoh bagaimana pendekatan yang dilakukan dalam mendampingi dan memberikan pembelajaran pada satu siswa tunu rungu.

Berkat kerjasama yang terbangun antara orangtua, para guru serta dukungan penuh dari kepala sekolah, sekolah tersebut melaksanakan kunjungan ke rumah siswa dengan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun serta menjaga jarak. Kini, Alfin siswa tunu rungu itu bisa tersenyum sambil belajar di rumah dengan pendampingan intensif dari guru dan kepala sekolah melalui beragam media pembelajaran untuk membantunya mengenal huruf dan mengenal angka. 

“Saya bersama beberapa guru yakni ibu Erna, Ibu Rasima, dan pak Muslimin karena rumahnya dekat dengan Alfin di Dusun Hijrah 1 datang berkunjung setiap pekannya ke rumah Alfin agar ia bisa belajar membaca dan berhitung, saya sengaja terjun langsung dan mengajak lebih dari satu guru agar mereka sama-sama mendapatkan pengalaman dan ilmu dalam mengelola pembelajaran berbasis pendekatan emosional dengan siswa disabilitas” Demikian disampaikan Hadiatollah SPd SD kepada Gaung NTB kamis (3/9).

Menurutnya, siswa berkebutuhan khusus, membutuhkan cara penanganan dan pembelajaran khusus pada setiap mata pelajaran.

“Kadang setiap kali kami datang, Alfin masih asyik main, sehingga kami harus mengajaknya pelan-pelan untuk mulai belajar sambil bermain, kadang Alfin juga masih malu-malu karena ia padahal sudah kelas 4, tetapi kata ibu Alfin ketika sendiri, maka Alfin akan menyebut huruf keras-keras” katanya.

Disebutkan, melalui dana BOS ada pengadaan media pembelajaran ular tangga bagi anak berkebutuhan khusus dengan bahasa isyarat membantu anak mengenal huruf abjad dari A sampai Z.

Bahkan, ada juga media huruf dari kartun aneka warna yang sengaja dibuat agar Alfin bisa lebih tertarik belajar membaca.

Media lainnya, ada juga kait angka dan Gema untuk mengajarkan numerasi nilai tempat pada anak berkebutuhan khusus. Mengembangkan metode berhitung operasi penjumlahan dan pengurangan bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK), khususnya bagi anak-anak tuna rungu. Metode ini disebut “GEMA” (Geser Maju Mundur Angka).

Adapun cara menerangkannya menggunakan bahasa bibir atau gerakan bibir. Untuk mengimplementasikan pembelajaran GEMA, di dalam ruangan kelas telah disediakan beberapa alat peraga seperti papan media, gantungan besi korden dan sejumlah keping CD yang berisi angka.

Dengan metode GEMA untuk ABK dimulai dari menguji kemampuan siswa mengenal angka 0-9. Guru lalu menjelaskan tentang langkah operasi penjumlahan dengan cara menggeser maju sedangkan operasi pengurangan dengan cara menggeser mundur angka.

Lebih jauh sambungnya, karena bukan sekolah inklusi, jadi tidak ada alat peraga atau media pembelajaran yang dikhususkan bagi ABK di sekolahnya. Begitu pula dengan keterampilan guru dalam memberikan layanan pendidikan, guru tidak memiliki keterampilan khusus. Padahal, dalam proses mengajar anak dengan kebutuhan khusus diperlukan perhatian maksimal. Dengan keterbatasan ilmu, semua guru berusaha menciptakan LIRP (Lingkungan Inklusif Ramah Pembelajaran).

Beruntung tambah Hadiatollah, sebelum menjadi kepala sekolah di SDN Hijrah 1, ia pernah menjadi guru di SDN 3 Lape sebagai salah satu penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten Sumbawa sehingga pengalaman dan ilmu selalu ia terapkan kepada guru dan siswa berkebutuhan khusus disekolah barunya.

Selain itu dimasa pandemi ini, Hadiatollah juga aktif mentransfer ilmu kepada orangtua Alfin agar bisa mendampingi anaknya dengan sabar selama belajar dari rumah serta mencoba pelan-pelan mengajarkan bahasa isyarat agar lebih mudah komunikasi dengan Alfin.

Hadiatollah berharap, para siswa bisa kembali belajar di sekolah jika zona orange berubah menjadi zona hijau, pihaknya juga sudah menyiapkan penyesuaian dalam pembelajaran sesuai protokol kesehatan dan mempersiapkan sekolah berdasarkan syarat keamanan dari penyebaran Covid 19 seperti menyeprot disenfektan, tempat mencuci tangan dan alat pengukur suhu tubuh. Bahkan sudah ada bonk yang terbuat dari bahan lokal seperti latuk dan bokar sebagai tempat mencuci tangan, ia juga sudah menambah kedalaman sumur sekolah agar air mengalir bisa digunakan oleh siswa saat kembali ke sekolah di era normal baru nantinya. (Gks) 

Tags: LapeSDN Hijrah 1