Prodi Bahasa Indonesia UNSA Pentaskan Cerita Rakyat Sumbawa

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Samawa (Unsa) Sumbawa Besar, mementaskan cerita rakyat Sumbawa, Buin Lajendre dan Ai Suning melalui pertunjukkan drama yang berlangsungg di Auditorium Unsa Sabtu, (6/1).
Kegiatan pementasan tersebut dihadiri Ketua Program Studi (Kaprodi) PBSI, Direktur Pajenang (Lembaga Riset Kebudayaan Daerah Sumbawa), beberapa dosen dari Unsa, masyarakat sekitar Unsa, dan mahasiswa Unsa.
Sementara itu, dosen pembina kegiatan tersebut Bambang Ryanto, S.Pd. yang ditemui Gaung NTB, usai kegiatan menyampaikan, kegiatan pementasan ini merupakan agenda rutin yang tetap digelar Mahasiswa PBSI Unsa.
Menurutnya, melalui pementasan drama dengan cerita budaya lokal Sumbawa, cerita tersebut dapat dikenali generasi saat ini, karena cerita lokal Sumbawa kurang dipahami dan jarang diketahui anak muda saat ini.
Ditambahkannya, sejauh ini mahasiswa PBSI Unsa sudah sering mementaskan cerita rakyat Sumbawa diantaranya, Dara Palomong, Lala Balong (Labaong), Batu Tunjuk, Lala Jinis, dan beberapa cerita-cerita lainnya.
Sementara itu, Kaprodi PBSI, Juanda, S.S, M.Pd, yang ditemui Gaung NTB usai kegiatan menyampaikan kegiatan semacam ini merupakan ajang yang digunakan pengembangan bakat minat mahasiswa PBSI, yang sekaligus mendokumentasikan cerita-cerita rakyat Sumbawa.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program Badan Pengembang Bahasa RI dalam Bidang Diplomasi Budaya Nasional.
Terkait kegiatan tersebut Juanda berharap, bakat yang dimiliki mahasiswa dalam hal pementasan harus terus diasah dengan latihan rutin dan sering-sering mentas guna menambah pengalaman di atas Pangung.
Kemudian Direktur Pajeneng, Aries Zulkarnain, yang juga merupakan Ketua Lembaga Riset Kebudayaan Daerah Sumbawa, ketika ditemui Gaung NTB usai pementasan menyampaikan, sangat mendukung kegiatan tersebut, apalagi menyangkut cerita rakyat Sumbawa yang dikemas dalam bentuk naskah drama.
Ditambahkannya, minat generasi muda untuk mengembangan nilai budaya seperti ini sudah jarang ditemui dan dukungan dari pihak seperti kampus dan Lembaga Adat sangat dibutuhkan oleh adik-adik ini.