Ratusan Pasang Kerbau Ramaikan Orong Dodat

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Sebanyak 400 pasang kerbau yang siap berlaga di kegiatan Barapan Kebo yang diselenggarakan di Orong Dodat, Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu. Kegiatan Barapan Kebo tersebut merupakan rangkaian dari Festival Pesona Moyo (FPM) dan merupakan kegiatan terakhir dan sekaligus penutup FPM, Sabtu (07/10).
Tidak hanya Kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa saja yang mengikuti Barapan Kebo tersebut, akan tetapi peserta dari KSB juga ikut menyemarakkan dengan 120 pasang kerbau.
Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, Ir Talifuddin MSi menyampaikan, selain rangkaian dari kegiatan FPM 2017, Barapan Kebo merupakan upaya melestarikan budaya dan ada istiadat masyarakat Sumbawa. Menggali kembali, mengembangkan, memperkenalkan serta mempromosikan kegiatan tersebut kepada masyarakat luas. “Kita harapkan, dengan kegiatan ini penggemar Barapan Kebo dapat bersemangat melestarikan keberadaan kerbau, karena beberapa tahun belakangan ini mengalami penurunan populasi sekitar 4,27 persen. Dimana saat ini populasi kerbau yang ada sekitar 43 ribu,” ujar Ir Talifuddin.
Lanjut Ir Talifuddin, bahwa sejauh ini pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan LIPI, yaitu terkait dengan rencana pengembangan kerbau dengan mencari bibit unggulan. “Dengan kerjasama ini, nanti pada akhirnya ditahun-tahun mendatang populasi kerbau di Sumbawa akan meningkat. Kami juga memiliki pembibitan kerbau di Maronge dengan jumlah 60 kerbau dan sudah menghasilkan 12 anak kerbau,” terang Ir Talif.
Sementara itu Sekda Sumbawa, Drs H Rasyidi mengatakan, Barapan Kebo merupakan kegiatan yang sangat luar biasa dan harus dipertahankan. Bila perlu intensitas penyelenggaraannya dapat ditingkatkan. Karena akan dapat meningkatkan semangat masyarakat dalam berternak kerbau. “Kalo kita hitung, biasanya yang resmi disini, seperti kali ini hanya satu atau dua kali saja. Kedepan kita harapkan secara priodik, bisa 3 bulan sekali, kemudian lokasi juga kita geser ke wilayah yang bisa dimanfaatkan untuk arena Barapan Kebo,” ujar Sekda Sumbawa.
Selain dihajatkan untuk menggairahkan sektor pariwisata, Barapan Kebo juga dimaksudkan untuk melestarikan budaya Tau Samawa. Karena Barapan Kebo merupakan sebuah warisan leluhur, sehingga dapat membangkitkan kembali rasa cinta terhadap budaya daerah yang pada akhirnya akan memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat kita.
H Rasyidi menegaskan bahwa, Kabupaten Sumbawa memiliki potensi wisata cukup besar dan belum tereksploitasi dengan baik. Keindahan alam yang dimiliki sangat banyak dan beragam, bahkan setiap wilayah kecamatan memiliki keragaman budaya yang khas dan sangat menarik. Beberapa ikon wisata Sumbawa sudah dikenal luas, diantaranya Barapan Kebo.
“Dunia pariwisata telah mengenal tradisi Barapan Kebo dari Pulau Sumbawa, hal ini tidak lepas dari adanya kemajuan teknologi informasi. Sejak adanya internet berbagai informasi dengan mudah diakses oleh masyarakat global dan melalui internet potensi wisata dengan mudah dipromosikan kepada semua orang baik skala nasional maupun internasional,” papar H Rasyidi
Kaitan dengan tradisi Barapan Kebo ungkap Sekda Sumbawa, sudah cukup sering dilaksanakan di Tana Samawa. H Rasyidi memandang fasilitas internet belum maksimal dimanfaatkan para penyelenggara kegiatan. Hal ini mungkin disebabkan kurang adanya kolaborasi yang baik antara penyelenggara dengan pihak pengelola jasa wisata baik itu hotel maupun travel agent.
“Selain kurangnya informasi secara online, waktu dan tempatnya belum terjadwal dengan baik untuk dimasukkan dalam agenda wisata tahunan. Inilah salah satu penyebab wisatawan domestik dan asing kesulitan menyaksikan event itu secara langsung,” imbuhnya.
Sekda Sumbawa berharap para pihak terkait saling berkoordinasi sehingga informasi agenda pariwisata Sumbawa dapat terintegrasi dengan baik dan dimuat secara online pada laman-laman wisata yang tersedia.