Restrukturisasi Dianggap Signifikan dalam Mengurangi Risiko Kredit

    Restrukturisasi kredit juga membantu terciptanya stabilitas sistem keuangan.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk meyakini keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit perbankan dari Maret 2021 hingga Maret 2022 dapat membantu perbankan mengurangi risiko kredit selama krisis pandemi Covid-19. OJK telah mengeluarkan kebijakan restrukturisasi kredit sejak Maret 2020, tepat setelah Indonesia dinyatakan pandemi Covid-19.

    Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pengurangan risiko kredit akan memungkinkan bank melakukan penyesuaian kebijakan yang mendorong pertumbuhan kredit, seperti pemotongan suku bunga kredit secara bertahap hingga peningkatan dana cadangan bank.

    “Restrukturisasi kredit diberikan terutama kepada nasabah dari kalangan bisnis yang sebelum pandemi Covid-19 mencatatkan kinerja keuangan yang positif dan prospek bisnis yang positif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (20/4).

    “Perusahaan yang sebelumnya memiliki kinerja keuangan yang baik, namun terpukul pandemi, menjadi target restrukturisasi yang diharapkan dapat bangkit dan turut serta memulihkan perekonomian,” ujarnya.

    Menurut dia, restrukturisasi kredit juga membantu terciptanya stabilitas sistem keuangan, sehingga perbankan dapat fokus meningkatkan kinerja keuangannya dan lebih leluasa menyesuaikan kebijakan, termasuk menurunkan suku bunga kredit. Di sisi lain, dia mengatakan meski suku bunga rendah, ada faktor lain yang bisa menghambat pertumbuhan penyaluran kredit.

    Pertama, bisnis belum berjalan karena belum ada permintaan dari masyarakat, sehingga perusahaan menilai belum saatnya menambah kapasitas bisnis. Kedua, saat ini banyak sumber dana selain bank seperti fintech.

    Ketiga, pelaku usaha sebenarnya masih menyimpan cadangan uang tunai yang akan digunakan saat kondisi pasar mulai ramai. Menurut dia, jika suku bunga kredit turun, maka pertumbuhan penyaluran kredit selama masa pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 juga diperkirakan akan meningkat.

    “Jika suku bunga rendah, maka kemampuan pelaku usaha menarik pinjaman untuk memulai usaha atau mengembangkan usahanya akan meningkat,” ujarnya.

    Per 8 Februari 2021, data OJK menunjukkan nilai restrukturisasi kredit bank sebesar Rp. 987,5 triliun tersebar di 101 bank di seluruh Indonesia. Sedangkan nilai restrukturisasi terbesar bagi nasabah UMKM adalah sebesar Rp. 388,3 triliun, yang diterapkan kepada 6,2 juta debitur.

    Tercatat segmen non UMKM dihargai Rp. 599,15 triliun yang dibagikan kepada 1,8 juta debitur. Meski masih berada di zona negatif, pertumbuhan kredit sudah mulai membaik dibandingkan tahun lalu.




    Source