Rusia masih bungkam tentang konflik dengan Ukraina

Ukraina telah mengajukan permintaan untuk melakukan pembicaraan dengan Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy belum melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas eskalasi konflik di timur Ukraina. Juru bicara Presiden Zelenskiy, Iuliia Mendel, mengatakan Ukraina telah mengajukan permintaan untuk melakukan pembicaraan dengan Rusia tetapi belum ditanggapi.

“Kantor presiden, tentu saja, meminta untuk berbicara dengan Vladimir Putin. Kami belum menerima jawaban dan kami sangat berharap ini bukan penolakan untuk berdialog,” kata Mendel.

Mendel mengatakan Rusia telah mengumpulkan lebih dari 40.000 tentara di perbatasan timur Ukraina dan lebih dari 40.000 tentara di Krimea. Angka tersebut lebih tinggi dari yang diungkapkan sebelumnya oleh kepala angkatan bersenjata Ukraina kepada parlemen pada Maret lalu.

Mendel menambahkan bahwa Zelenskiy akan mengunjungi Paris untuk membahas peningkatan pasukan Rusia dan konflik yang meningkat di Donbass. Zelenskiy dan Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan bertemu akhir pekan ini.

Putin pada hari Jumat menuduh Ukraina melakukan “tindakan provokatif berbahaya” di wilayah Donbass. Kremlin mengatakan Rusia memiliki kebebasan untuk memindahkan pasukan di sekitar wilayahnya sendiri untuk tujuan pertahanan.

Kiev dan Moskow saling menyalahkan atas situasi yang memburuk di wilayah Donbass timur. Wilayah itu adalah tempat pasukan Ukraina memerangi pasukan yang didukung Rusia dalam konflik yang menurut Kiev telah menewaskan 14.000 orang sejak 2014.

Kebuntuan tersebut telah memicu keprihatinan dari para pendukung Ukraina di Barat. Washington dan aliansi NATO menuduh Rusia “provokatif”. Zelenskiy telah berbicara tentang perlunya NATO mengakui Ukraina. Namun, langkah ini ditentang oleh Rusia, dengan alasan masalah keamanan.

“Di satu sisi, Anda tidak bisa panik, di sisi lain, Anda perlu memahami bahwa Rusia telah menunjukkan lebih dari sekali bahwa mereka dapat menginvasi negara lain,” kata Mendel.

sumber: Reuters




Source