Santri Mulai Kembali ke Pesantren di Tasikmalaya

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA — Sejumlah santri dari luar kota mulai dipulangkan ke Pondok Pesantren di Kabupaten Tasikmalaya pada Rabu (2/6). Salah satunya di Pesantren Idrisiyyah (Ponpes) yang terletak di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Berdasarkan pemantauan republik, Kepulangan santri selepas libur lebaran ke pondok pesantren ditampung oleh pihak pesantren. Para santri dari luar kota dijemput menggunakan bus atau minibus yang telah disediakan pihak pondok pesantren, sehingga santri aman selama perjalanan.

“Proses penjemputan kami lakukan dengan armada yang sudah kami sterilkan dengan disinfektan. Kami juga menghadirkan tour leader di setiap bus untuk memastikan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) dilakukan,” ujar Ketua Panitia untuk Kepulangan dan Penjemputan santri Pondok Pesantren Idrisiyyah, Ustadz Nur Aziz Rahmatulloh, Rabu .

Sesampai di pondok pesantren, santri dan barang bawaannya kembali disterilisasi menggunakan cairan disinfektan. Setelah itu, siswa diwajibkan untuk mengikuti tes mengepel antigen di tempat yang telah disiapkan.

Menurutnya, dari 200 mahasiswa yang datang dan menjalani tes swab antigen, tidak ada satupun yang positif Covid-19. Namun, jika ditemukan siswa yang positif, pihaknya akan segera mengisolasi siswa yang bersangkutan.

“Kami sudah siapkan tempat khusus sesuai arahan Satgas Kecamatan Cisayong. Kami juga akan komunikasikan dengan orang tua siswa terkait penanganannya,” kata Ustadz Nur.

Sedangkan bagi mahasiswa yang sudah terkonfirmasi negatif Covid-19 bisa langsung menuju asrama masing-masing. Setelah semua proses pemulangan selesai, rencananya proses belajar mengajar (KBM) di pesantren akan dimulai pada 4 Juni mendatang.

Ustaz Nur mengatakan ada sekitar 1.200 santri yang akan kembali ke Pondok Pesantren Idrisiyyah. Namun, pemulangan santri dilakukan secara bertahap selama dua hari.

“Hari ini akan ada 500 mahasiswa dari luar Tasikmalaya. Sisanya besok dari Tasikmlaya dan sekitarnya,” ujarnya.

Salah satu santri yang baru kembali ke pesantren, Defri (15 tahun) mengaku tidak ada persiapan khusus untuk melanjutkan tinggal di pesantren tersebut. Ia hanya menyiapkan sejumlah perlengkapan untuk menjaga kemajuan, baik selama perjalanan maupun di pondok pesantren.

“Yang penting maju terus,” kata mahasiswa asal Karawang itu.

Sementara itu, siswa lain, Aska (15) juga mengaku belum mempersiapkan diri secara khusus. Orang tuanya juga tidak khawatir dia kembali ke pesantren. Sebab, menurut dia, orang tuanya menganggap lebih aman di pesantren daripada di rumah.

“Saya hanya diberi pesan dari orang tua saya untuk tidak melepas masker dan menjaga jarak,” kata pria asal Garut itu.

https://repjabar.republika.co.id/berita/qu2php409/santri-mulai-berdatangan-kembali-ke-pesantren-di-tasikmalaya