Sebanyak 11 Wadah Jahe Impor Mendarat, Hancur

Perusakan harus dilakukan demi kepentingan kelestarian hayati negara.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Sebanyak 11 kontainer jahe impor asal India dan Myanmar yang masuk ke wilayah Republik Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dimusnahkan, Rabu (7/4). Pasalnya, jahe tidak memenuhi persyaratan karantina pertanian.

Sekretaris Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian, Wisnu Haryana mengatakan, pemusnahan dilakukan secara bertahap. “Dua kontainer di wilayah Mojokerto kami musnahkan pada 26 Maret 2021. Sisa sembilan kontainer jahe impor yang kotor, kotor, dan mengandung nematoda jenis aphelenchoides fragrariae dimusnahkan secara bertahap, kata Wisnu, Rabu (7/4).

Wisnu menjelaskan, pihaknya melalui Karantina Pertanian Surabaya sebelumnya telah menindak komoditas pertanian tersebut karena tidak memenuhi ketentuan dan persyaratan karantina pertanian. Tindakan pemusnahan merupakan tindakan terakhir yang harus dilakukan untuk kepentingan kelestarian sumber daya alam hayati negara.

Kepala Karantina Pertanian Surabaya Mussyafak Fauzi menjelaskan tahapan pemusnahan dilakukan terhadap 11 kontainer atau sebanyak 289.644 ton jahe yang tidak memenuhi standar tersebut. Sebelumnya, dua kontainer telah dimusnahkan di Mojokerto pada 26 Maret 2021. Kemudian pemusnahan dilakukan dengan menggunakan fasilitas pembakaran suhu tinggi milik PT Semen Gresik.

Masing-masing adalah 2 kontainer seberat 52,2 ton menggunakan alat milik PT Indopak Trading, 1 kontainer seberat 27 ton milik PT Mahan Indo Global, dan 1 kontainer milik PT Putra Jaya Abadi seberat 27 ton, pemusnahan dilakukan pada Selasa ( 6/4). Selanjutnya dilakukan pengerjaan 2 kontainer seberat 52,2 ton menggunakan peralatan PT Indopak Trading yang dilakukan pada Rabu (7/4).

“Nanti akan ada 2 kontainer seberat 52,2 ton oleh peralatan PT Indopak Trading dan 2 kontainer seberat 52,2 ton oleh PT Indopak Trading dalam dua hari ke depan,” kata Mussyafak.

Mussyafak menjelaskan, sejak awal komoditas impor tersebut tidak memenuhi persyaratan. Yakni, pernyataan karantina negara asal melalui Sertifikat Kesehatan Tumbuhan (PC, red) dari negara asal bahwa komoditas yang sehat dan aman tidak sesuai.

Selain tidak memenuhi ketentuan internasional (ISPM 20 dan 40), komoditas impor yang termasuk dalam wilayah kerja ini juga tidak memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 25 Tahun 2020 tentang keberadaan 166 jenis OPTK yang bisa dibawa melalui tanah.

“Tindakan penolakan untuk diikuti pemusnahan tersebut tentunya sudah melalui kajian dan hasil analisis risiko dari pihak Barantan,” ujarnya.




Source