Sedikit Bicara dan Lakukan Nyata

    Muhammadiyah merupakan salah satu elemen bangsa yang turut andil dalam menghadapi pandemi.

    REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Tujuh puluh enam tahun kemerdekaan Indonesia bagi Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di tanah air, memiliki makna tersendiri. Karena peringatan ini akan menjadi momentum untuk menyerah sambil terus berkontribusi dalam penanganan segala dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19.

    Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menyatakan, dalam konteks kebangsaan ormas yang dipimpinnya, pihaknya tetap fokus pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mewujudkan keadilan sosial, perdamaian, dan nilai-nilai luhur​ sebagai komitmen perjuangan bangsa.

    Apalagi, lanjutnya, semangat memberi sedekah, tolong menolong, dan berbagi untuk kemanusiaan tanpa diminta adalah karakter Muhammadiyah. ”Kami membangun pola pikir, sistem, dan langkah-langkah konkrit serta berkontribusi signifikan terhadap terwujudnya cita-cita bangsa. Muhammadiyah melalui Lazismu dan ‘Aisyiyah telah mewujudkan semangat memberi untuk kemanusiaan,” kata Haedar.

    Haedar menyatakan, Muhammadiyah merupakan salah satu elemen bangsa yang telah dan terus memberikan kontribusi besar dalam penanganan pandemi. Etos sedikit bicara dan bekerja membuat setiap karya nyata Muhammadiyah mampu memberi tanpa banyak bicara.

    Untuk konteks pandemi, Muhammadiyah bergerak melalui Muhammadiyah Covid Command Center (MCCC), ‘Aisyiyah, badan amal usaha, lalu rumah sakit dan universitas ke jaringan bawah. Kontribusi Muhammadiyah dalam penanganan pandemi ini sudah dilakukan sejak 2 Maret 2020.

    ”Jadi, kalau dihitung dengan dana sudah sangat besar. Namun lebih dari itu, semangat yang dibawa tetap optimis, ikhtiar lahir dan batin. Muhammadiyah adalah contoh kekuatan masyarakat untuk bertindak ketika bangsa menghadapi masalah besar,” ujarnya.

    Dikatakannya, sejak awal Muhammadiyah memiliki semangat Al Maun yang dilembagakan melalui sistem. Oleh karena itu, dalam setiap situasi, Muhammadiyah selalu terpanggil untuk mengambil tindakan untuk memecahkan masalah yang menyangkut kemanusiaan.

    Dalam konteks ini, Muhammadiyah, karena sistem dan jaringan organisasinya yang relatif mapan, memungkinkannya untuk dapat memberikan sumbangsih bagi bangsa tanpa hingar bingar publikasi. Etos ini memang hidup dalam tubuh warga dan sistem Muhammadiyah.

    Menurutnya, etos bicara sedikit, lebih banyak bekerja ini menjadi pembeda di era media sosial, di mana orang cenderung tidak melakukan apa-apa, melaporkan, dan menjadi isu sosial. Sebab, kita berada dalam suasana yang penuh dengan realitas buatan.

    Ketika semua orang mengangkat isu seolah-olah identik dengan tindakan nyata, satu sisi memang memiliki makna. Namun, tidak semua orang terpanggil untuk bertindak berdasarkan apa yang dikatakan melalui media massa dan media sosial.

    “Fenomena simulacra (kenyataan palsu) ini tidak disadari oleh banyak orang, sehingga masyarakat terjebak dalam jebakan media sosial yang merupakan simulacra tadi. Mungkin juga ketika orang muncul memberikan bantuan, tidak mungkin terbawa suasana simulakra,” kata Haedar.

    Haedar menjelaskan, Muhammadiyah merasa belum maksimal, tetapi ingin berbuat yang terbaik dan maksimal untuk kemajuan bangsa dan negara. Apalagi dalam kondisi seperti ini, jika demi kemanusiaan, Muhammadiyah tak kenal kompromi.

    Jika memang harus berkorban, apalagi jika tidak banyak teman yang memiliki pola pikir yang sama, Muhammadiyah bertindak semampunya. Yang terpenting, kata Haedar, apa yang mereka lakukan bisa berdampak nyata bagi masyarakat luas, tanpa harus mengklaim mereka yang terbaik.

    Namun, dalam tubuh bangsa perlu ditumbuhkan sikap saling menghormati dan percaya satu sama lain. Jadi, untuk menghadapi bencana ini, kita bisa lebih optimis, berbuat lebih banyak, dan memiliki modal mental yang kuat.



    https://www.republika.co.id/berita/qy15o9399/sedikit-bicara-dan-berbuat-nyata