SETUBUHI MURID, OKNUM GURU HONORER DIMEJAHIJAUKAN

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Terdakwa HS (26) oknum guru honorer pada sebuah MA swasta di Kecamatan Tarano Sumbawa diajukan ke meja hijau Pengadilan Negeri Sumbawa Besar Senin (19/09) kemarin oleh Jaksa Penuntut Umum Kejari Sumbawa Dina Kurniawati SH, karena terlibat dalam kasus dugaan tindak pidana persetubuhan dengan seorang anak yang tiada lain muridnya sendiri sebut saja Mawar (17) bukan nama sebenarnya, sehingga oknum guru itu diancam dengan pelanggaran sejumlah pasal pidana berlapis.
Di hadapan sidang yang dikendalikan ketua majelis hakim Hari Suprianto SH MH dengan hakim anggota Reza Tyrama SH dan Agus Supriyono SH didampingi Panitera Pengganti Lisa Eliyanti SH yang juga dihadiri penasehat hukum terdakwa yang sengaja didatangkan dari Bima Advocat A Ika Ernawati SH itu, Jaksa Dina Kurniawati SH dalam dakwaannya mengungkapkan kronologis kejadian kasus persetubuhan yang dilakukan terdakwa HS itu terjadi pada hari Selasa 26 April 2016 lalu sekitar pukul 11.00 Wita berkali-kali disejumlah tempat terhadap korban perempuan sbut saja Mawar (17) bukan nama sebenarnya yang tiada lain muridnya sendiri yang masih duduk dibangku kelas III.
Perbuatan tindak pidana persetubuhan itu dilakukan dengan cara tipu muslihat merayu anak untuk bersetubuh dengannya selaku tenaga pendidik diawali dengan ancaman dan paksaan saat bertemu korban disekolahnya diajak kedalam kamar mandi hingga berlanjut dilokais pantai maupun disebuah hotel, dimana adegan layak sensor itupun direkam video oleh pelaku dan perbuatan tersebut diketahui secara tak sengaja oleh istri terdakwa pada saat membuka laptop suaminya terpampang dengan jelas berbagai adegan layaknya suami istri.
Melihat video rekaman itu istri terdakwa mendatangi orang tua korban yang dikenalnya sebab tidak jauh dari rumahnya itu sehingga rekaman video terdakwa dan korban itupun diperlihatkan membuat orang tua korban tak terima segera menempuh langkah hukum melaporkan perbuatan tidak senonoh oknum guru honorer itu kepada pihak Kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut, dan akibat perbuatannya pidana itu terdakwa HS didakwa dengan pelanggaran Pasal 81 (1) jo psl 81 (3) jo psl 81 (2) UU No 35 Tahun 2004 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman pidana 5 – 15 tahun penjara dengan denda paling banyak Rp 5 Miliar.
Dalam sidang yang berlangsung tertutup untuk umum tersebut, maka untuk membuktikan unsur dakwaannya Jaksa Dina Kurniawati SH langsung mengajukan 5 orang saksi terkait sekaligus terdiri dari korban, kedua orang tua korban, bibi korban dan teman korban dengan menjelaskan panjang lebar tentang perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa, dimana saat itu kendati terdakwa mengakui telah melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka tanpa paksaan dan ancaman, ujarnya. Karena pemeriksaan sejumlah saksi terkait dan terdakwa dinilai cukup maka hakimpun menunda sidang hingga Senin (26/09) mendatang untuk memberikan kesempatan kepada jaksa mengajukan tuntutan pidananya.