Sudah P21, Kasus Tersangka TA Predator Anak Segera Dilimpahkan Penyidik Ke Kejaksaan

Sumbawa Besar, Gaung NTB – “Hari ini ada informasi yang disampaikan pihak kejaksaan bahwa kasus tersangka TA sudah P21 (lengkap), kami masih menunggu surat resminya, dalam waktu dekat perkaranya segera akan dilimpahkan ke Kejaksaan” Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Sumbawa melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Aipda Arifin Setyoko saat ditemui Gaung NTB kamis (17/9).

Disebutkan, hasil penyidikan dan hasil visum ada 6 anak mengalami persetubuhan dan 6 anak korban pencabulan jadi total ada 12 anak usia SD dan SMP sebagai korban TA tersangka predator anak mantan ASN disebuah puskesmas ini.

“Kalau mau dikembangkan lagi, kasus ini bisa jadi korbannya lebih dari itu, tetapi dilihat lagi dari kondisi psikologis korban karena kejadiannya sudah cukup lama, selain itu ada pertimbangan dari keluarga korban juga” katanya.

Menurutnya, tersangka terancam pasal 81 juncto pasal 76D UU nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti atau revisi kedua dari UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman pidana mati atau penjara seumur hidup, atau dikebiri kimia atau penjara paling singkat 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

“Hakim yang akan putuskan terkait hukumannya nanti dipersidangan namun itulah ancaman hukumannya sesuai perbuatan tersangka” ungkap Arifin.

Kasus ini sudah menjadi isu nasional, dalam proses penyidikan juga melibatkan psikolog dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) bahkan tim dari Provinsi turun langsung ke lapangan sesuai intruksi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. LPA memberikan pendampingan kepada korban selama menjalani proses di kepolisian hingga persidangan nanti. Sedangkan psikolog sudah melakukan trauma healing guna memulihkan kondisi psikis korban.

Sedangkan, TA telah diberhentikan sementara sebagai ASN berdasarkan SK Bupati Sumbawa nomor 809 tahun 2020 pasca ditingkatkan kasusnya sebagai tersangka oleh penyidik Polres Sumbawa. 

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini berhasil terkuak setelah TA mengajak salah satu korban bermain (berhubungan badan) namun si korban tidak mau, kemudian TA mengancam korban hingga korban ketakutan dan melaporkan perbuatan TA kepada paman korban yang berada di Sumbawa. Oleh paman korban menelpon ayah korban yang saat itu sedang berada di sawah, mendapatkan informasi tersebut ayah korban langsung pulang dan menanyakan kepada sang anak. Setelah mengakui bahwa dirinya adalah korban kekerasan seksual, ayah korban menanyakan kembali siapa saja yang mengalami nasib sama sepertinya hingga disebutkanlah nama-nama teman lainnya yang juga sebagai korban. Kasus ini sebenarnya sudah terjadi sejak akhir tahun 2018 hingga terjadi lagi pada februari 2020 dengan modus les malam dan pembentukan tim kelompok ilmiah remaja pada salah satu sekolah SD di Kecamatan Lunyuk. (Gks)

Tags: predator anak