Suku Moi yang Trauma, ‘Perusahaan Kelapa Sawit Cinta Kita Miskin’

    Mereka (Suku Moi) tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan mereka dari hutan.

    REPUBLIKA.CO.ID, Perusahaan berjanji akan membangun rumah dan menyediakan mobil jika marga Wulimpa menyerahkan ribuan hektar hutan adatnya untuk perkebunan kelapa sawit. Setelah enam tahun, janji itu tak kunjung terwujud meski hutan telah ditebangi.

    Inilah pengalaman marga Wulimpa, salah satu marga di suku Moi, seperti yang disampaikan Mateus Yempolo (69 tahun). Mateus mengetahui hal ini karena nama keluarga istrinya adalah Wulimpa. Mateus adalah kepala adat Desa Maladofok, Kecamatan Sayosa, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

    Karena telah melihat janji palsu perusahaan sawit, Mateus dengan tegas menolak saat perusahaan meminta hutan adat marga Yempolo. Apalagi janji-janji yang dibuat serupa.

    “Pak, ini sawit yang bagus. Kalau mau masuk, kita akan bangun rumah dengan dinding langsung, kamar mandi di dalam, dan mobil juga,” kata Mateus menirukan apa yang dikatakan perusahaan sawit itu kepadanya, Selasa (28 /9). Terus terang, Matthew menolak.

    Marga Gisim di Kecamatan Klamono, Kabupaten Sorong, juga mengalami nasib sial setelah menyerahkan hutan adatnya kepada perusahaan sawit. Setiap bulan marga ini mendapat bagian hasil kebun plasma sebesar Rp. 60 juta.

    “Kalau dibagi rata tiap anggota marga hanya mendapat Rp 700 ribu,” kata Salmon Malagilik (58 tahun) di kediamannya di Kecamatan Klamono, Selasa (28/9). Salmon mengetahui hal ini, karena nama keluarga ibunya adalah Gisim dan sering membantu klan Gisim berurusan dengan perusahaan.

    Salmon mengatakan pembagian Rp 700 ribu per orang terlalu kecil dan hanya “uang sayur”. Sebab, uang tersebut hanya bisa digunakan untuk beberapa kebutuhan pokok saja. Tidak akan cukup jika juga digunakan untuk biaya pendidikan anak. Di sisi lain, mereka tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup dari hutan.

    Melihat fakta itu, Salmon pun “trauma” berurusan dengan perusahaan sawit. Dai juga dengan tegas menolak tawaran perusahaan sawit yang ingin mengambil hutan adat marga Malagilik.

    “Kami marga Malagilik tidak setuju dengan perkebunan sawit. Perusahaan sawit, dia membawa kekayaan kami, (tetapi) dia memberi kami orang miskin,” tambah Oktovina Malagilik (37), putri Salmon.

    Bahkan, anak Oktovina yang berusia tujuh tahun juga tidak ingin hutannya dijadikan perkebunan sawit. Suatu ketika, anak laki-laki bernama Agustinus bertanya mengapa begitu banyak orang datang ke rumahnya. Oktovina kemudian menjelaskan bahwa orang tersebut datang sehubungan dengan pelepasan hutan adat menjadi perkebunan kelapa sawit.

    “Ups, ibu saya tidak mau kelapa sawit karena saya lihat (di kebun sawit) tidak ada burung. Saat musim buah, kami tidak makan langsat, kami tidak makan cempedak,” kata Oktovina menirukan. kata-kata putra.



    https://www.republika.co.id/berita/r0fwyi396/suku-moi-trauma-perusahaan-sawit-kasih-kami-miskin