Tahun 2017, Kasus ODGJ di KSB Meningkat

Sumbawa Barat, Gaung NTB
Hingga akhir tahun 2017 ini, kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), cendrung mengalami peningkatan.
Untuk tahun ini sebut Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) setempat, melalui Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P), HM Yusfi, SKM, tercatat sudah ada sebanyak 824 kasus, dengan rincian laki-laki 466 kasus, dan perempuan 357 kasus. “Tahun 2016 lalu, hanya ada 247 kasus. Laki-laki 131 kasus dan perempuan 116 kasus. Kalau tahun 2015, ada 240 kasus. Perempuan 113 kasus dan laki-laki 127 kasus. Pasien penderita ODGJ ini sudha tertanggani pelayanan kesehatan. Bahkan ada yang dirujuk ke Mataram, untuk menindaklanjuti penanganannya,” ungkapnya.
Dijelaskan Yusfi, kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, Kesegaran jiwa meliputi perasaan sehat, bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya, bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Adapun penyebab gangguan kejiwaan akibat dari beberapa indikator antara lain, gangguan fungsi otak (keracunan, infeksi, tumor, cedera, gizi buruk dan narkoba), gangguan pikiran (sakit menahun, banyak masalah, cemas yang berlebihan), Masalah sosial (kurang kasih sayang, perceraian, kemiskinan, bencana).
Karenanya, gangguan kejiwaan itu adalah gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga menimbulkan penderitaan, dan terganggunya fungsi sehari-hari (pekerjaan, hubungan dengan orang lain).
Kesehatan jiwa juga dapat terganggu oleh beberapa faktor seperti kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan. Kehilangan harta benda, penyakit kronis/sulit sembuh.
Menurut H Yusfi, ada pun pencetus dari ODGJ yakni Stress, kegagalan berulang ulang, kurang nya dukungan/perhatian. Adapun cara memperlakukan orang yang jiwa nya terganggu, sangat mudah yaitu menghargai, melibatkan dalam kegiatan, tidak mengucilkan, membawa berobat ke puskesmas atau rumah sakit.
Tak hanya itu, H Yusfi pun menekankan beberapa hal yang dilarang keras melakukan beberapa tindakan terhadap pasien ODGJ, seperti mengejek, mengucilkan, menganiaya, mencap sebagai orang yang “gokil”. “Walau kasus ODGJ di KSB tahun ini meningkat, tapi tidak ada yang sampai dipasung. Tindakan ini (dipasung) sangat tidak dibenarkan. Untuk di KSB, tidak ada pasien yang sampai dipasung,” tandasnya.