Taliban Memperketat Kontrol di Panjshir

    Saksi mata mengatakan Taliban membunuh sedikitnya delapan warga sipil

    REPUBLIKA.CO.ID, KABUL — Pejuang Taliban memperketat kontrol di wilayah Panjshir. Saksi mata mengatakan kepada Washington Post bahwa militan Taliban menolak makanan yang disediakan oleh penduduk setempat dan mengeksekusi warga sipil.

    Saksi mata mengatakan kepada Washington Post bahwa Taliban membunuh setidaknya delapan warga sipil yang bukan pendukung pemberontakan atau Taliban. Panjshir adalah benteng terakhir gerakan perlawanan anti-Taliban, yaitu Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF).

    Pekan lalu, Taliban mengklaim telah menaklukkan Panjshir. Namun, pemimpin gerakan perlawanan Ahmad Massoud bersikeras pertempuran di Panjshir terus berlanjut. Dia juga menyerukan pemberontakan nasional.

    Seruan Massoud disambut dengan protes di seluruh Afghanistan untuk mendukung gerakannya. Namun pada Rabu (8/9), Taliban melarang segala bentuk protes tanpa izin. Mereka yang akan melakukan protes harus mendapatkan izin dari pemerintah Taliban.

    Taliban dilaporkan menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi. Juru bicara hak asasi PBB Ravina Shamdasani mengatakan Taliban membubarkan protes dengan peluru tajam, tongkat dan cambuk. Kekerasan telah menyebabkan kematian setidaknya empat pengunjuk rasa.

    Sejak menguasai Afghanistan pada 15 Agustus, Taliban telah bersumpah untuk membentuk pemerintahan yang inklusif dan lebih moderat. Mereka juga akan menghormati hak-hak perempuan dengan mengizinkan mereka bekerja dan bersekolah.

    Taliban berusaha memperbaiki citra ekstrem yang melekat pada mereka ketika mereka berkuasa pada 1996-2001. Namun para aktivis dan jurnalis mengatakan kenyataan di lapangan dan pernyataan Taliban di setiap konferensi pers sangat berbeda. Aktivis perempuan dan mantan pemimpin politik perempuan mengatakan mereka diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.

    Taliban mengumumkan susunan kabinet mereka awal pekan ini. Semua posisi di kementerian dipegang oleh laki-laki dan Kementerian Urusan Perempuan dibubarkan. Selain itu, Taliban juga melakukan aksi kekerasan terhadap sejumlah wartawan.

    Reporters Without Borders mengatakan wartawan perempuan diduga hilang dari Kabul. Media lokal Afghanistan mengatakan dua wartawannya dipukuli dengan cambuk oleh Taliban karena meliput protes. Beberapa foto yang beredar di media sosial memperlihatkan bagian punggung dan kaki kedua wartawan tersebut dipenuhi memar dan bekas luka.



    https://www.republika.co.id/berita/qz9kw7459/taliban-memperketat-kendali-di-panjshir