Tanda-Tanda Awal Parkinson yang Harus Diwaspadai

Ada beberapa pasien parkinson yang mengalami gejala sebaliknya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penyakit parkinson merupakan penyakit dengan gejala seperti tremor, gangguan gerak, penurunan kognitif, kesulitan berbicara, kelelahan, dan masih banyak lagi lainnya. Termasuk salah satu yang rawan muncul di awal adalah kekakuan atau kelesuan otot, yang terlihat dari ekspresi watah.

Para ahli mengatakan kekakuan di sekitar pipi dan mulut yang terjadi selama pandemi saat ini mungkin akibat seringnya menggunakan masker. Namun, bukan tidak mungkin hal ini sebenarnya merupakan tanda awal penyakit parkinson yang harus diwaspadai oleh setiap individu.

Dilaporkan Kehidupan Online Terbaik, Selasa (22/6), ada perubahan pada bagian bawah mata seseorang yang bisa menjadi tanda awal penyakit Parkinson. Gejala mata ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan dan meningkatkan ketidaknyamanan dari waktu ke waktu.

Salah satu perubahan itu adalah saat mata berkedip. Selama waktu ini, refleks berkedip mungkin sesuatu yang jarang diperhatikan.

Para ahli mengatakan biasanya tingkat kedipan yang stabil adalah sekitar 16 hingga 18 kali per menit. Namun, bagi penderita Parkinson, kecepatan ini dapat melambat secara substansial karena perubahan otot dan akhirnya menyebabkan gangguan penglihatan.

“Masalah bisa datang dari kesulitan menggerakkan mata dan kelopak mata, serta masalah dengan mata berkedip dan kering,” kata Elliot Perlman, dokter mata di American Parkinson’s Disease Association (APDA).

Sebagian besar kondisi ini menurut Perlman berasal dari parkinson itu sendiri. Sedangkan yang lainnya mungkin disebabkan oleh obat-obatan yang dibutuhkan untuk mengobati penyakit tersebut.

Seseorang mengembangkan Parkinson ketika neuron dopaminergik atau dopaminergik di area substansia nigra otak menghilang. Sistem dopamin memainkan peran penting dalam fungsi otot dan fisiologi motorik.

Namun, beberapa ahli percaya bahwa penurunan tingkat kedipan lebih dari sekadar akibat kelesuan atau kekakuan otot karena kekurangan dopamin. Ini mungkin sebenarnya cara tubuh mencoba meningkatkan paparan cahaya seseorang, yang pada gilirannya membantu tubuh mengembangkan lebih banyak dopamin.

Sebuah studi yang diterbitkan di Jurnal Internasional Ilmu Saraf menjelaskan bahwa berkedip membantu mengatur paparan terang-gelap, yang membantu menyesuaikan produksi melatonin dan dopamin. Penurunan berkedip mungkin mencerminkan mekanisme kompensasi untuk meningkatkan paparan cahaya, mengurangi produksi melatonin dan akhirnya meningkatkan fungsi dopamin.

Berkedip dengan kecepatan normal merupakan bagian penting dari kesehatan mata karena membantu mendistribusikan kembali air mata ke permukaan mata. Tanpa redistribusi konstan, air mata cepat menguap, menyebabkan permukaan mata menjadi kering dan menyakitkan. Akibatnya, beberapa orang mengalami sensasi terbakar yang terkait dengan gejala ini.

Selain itu, ada kemungkinan terjadinya sensasi benda asing, seperti sesuatu yang tersangkut di mata. Seiring waktu, ini dapat menurunkan penglihatan seseorang dan menyebabkan kesulitan membaca dan fungsi mata lainnya.

Menurut para ahli, air mata buatan dapat membantu meringankan gejala ini pada pasien Parkinson, termasuk penglihatan kabur dan ketidaknyamanan mata. Hal sebaliknya juga bisa terjadi pada penderita penyakit ini.

Meski tidak umum, ada beberapa pasien parkinson yang mengalami gejala sebaliknya. Diantaranya adalah kedipan mata yang berlebihan, yang dikenal dengan blepharospasm.

Mereka yang menderita blepharospasm dapat berkonsultasi dengan dokter mata atau neuro-oftalmologi, yang dapat menyuntikkan toksin botulinum ke otot-otot di sekitar mata setiap tiga hingga empat bulan. Perawatan yang dilakukan oleh spesialis gangguan gerakan diketahui sangat efektif dalam memperlambat laju kedipan dan meningkatkan fungsi mata.



https://www.republika.co.id/berita/qv2xjv463/tanda-awal-parkinson-yang-perlu-diwaspadai