Tanggapan Dinas Dikbud Terkait Beredarnya Video Perkelahian Siswi

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Beredarnya video perkelahian siswi SMP di Sumbawa, langsung direspon Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, dengan memanggil kepala sekolah tempat pelajar tersebut menimba ilmu.
Pemanggilan ini dimaksudkan untuk mengklarifikasi langsung apa penyebab terjadinya perkelahian yang sepintas bak petarung UFC, dan telah viral di Youtube itu.
Namun, sayangnya kepala sekolah dimaksud belum sempat hadir. Alasannya, pihak sekolah ternyata ingin menyelesaikan persoalan tersebut terlebih dahulu di internal sekolah. “Kepala sekolahnya sudah kita panggil, tapi sepertinya hari ini (kemarin) belum bisa datang. Masalah ini ingin diselesaikan dulu di internal sekolah, baru hasil BAP nya disampaikan ke Dikbud besok (hari ini),” ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, Ir Irin Wahyu Indarni.
Hasil penelusuran Dinas Dikbud, pelajar siswi yang terlibat perkelahian ini berasal dari dua sekolah yang berbeda. Tapi masih berada dalam satu wilayah, yakni di Kecamatan Empang. “Insya Allah, besok setelah kepala sekolahnya datang, baru kita tahu apa penyebab terjadinya perkelahian yang sudah viral di Youtube ini,” tandasnya.
Sambil menunggu klarifikasi dari pihak sekolah, Irine menilai terjadinya perkelahian yang melibatkan pelajar ini, lantaran belum maksimalnya penguatan pendidikan karakter di sekolah. Padahal di Kurikulum 13 (K-13) kata dia, penguatan pendidikan karakter ini melekat di semua mata pelajaran, dan itu mestinya harus ditingkatkan.
Menurutnya, Tri Sentra Pendidikan (masyarakat termasuk pemerintah, satuan pendidikan serta keluarga) harus berkolaborasi dengan baik, agar wajah pendidikan juga berjalan mulus. “Sekolah itu hanya punya waktu 6-7 jam saja, selebihnya anak-anak tentu banyak berada di rumah. Di sinilah peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk karakter mereka (siswa),” ujarnya.
Sekolah sambungnya, juga dapat menerapkan pendidikan keluarga dengan melibatkan langsung orang tua dalam pendidikan. Jangan lupa, instansi terkait juga diajak bergabung untuk memberikan pencerahan. “Kalau perlu sekolah bentuk paguyuban keluarga tiap kelasnya,” demikian Irin Wahyu Indarni.