Tanjung Pinang Hadapi Kelompok TKI

    REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNG PINANG – Sebanyak 23 mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Malaysia positif terjangkit Covid-19. Klaster TKI membuat kasus Covid di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Kepri) melambung tinggi akhir pekan lalu.

    “Beberapa hari lalu, jumlah penderita Covid-19 di Tanjung Pinang bertambah 53 orang. Sebenarnya mereka tidak semuanya warga Tanjung Pinang, tapi 23 di antaranya adalah mantan TKI yang dipulangkan ke Indonesia melalui Sri Bintan. Pelabuhan Pura Tanjungpinang, “kata Ketua Harian. Satgas Penanganan Covid-19 setempat, Teguh Ahmad Syafari, Minggu (18/4).

    Seluruh eks buruh migran asal Malaysia yang terjangkit Covid-19 sudah diisolasi di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kepri Kabupaten Bintan. Mereka tidak dirawat karena tidak ada gejala.

    Dia mengatakan, TKI diketahui terinfeksi Covid-19 setelah dilakukan tes usap. Hasil pemeriksaan diketahui beberapa hari kemudian. “Yang kami khawatirkan adalah proses pengangkutan mantan TKI ke lokasi penampungan sebelum dipulangkan ke daerah asalnya. Mereka menggunakan angkutan umum. Bagaimana dengan supir angkot yang kemudian juga berpotensi kontak dengan penumpang lain,” ucapnya. Teguh yang juga Sekretaris Daerah Tanjung Pinang.

    Teguh sudah memerintahkan petugas kesehatan untuk melakukan pencarian secara mendalam. “Kami berharap jumlah penderita Covid-19 yang saat ini menunjukkan tren meningkat tidak bertambah lagi,” ujarnya.

    Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kepri, TS Arif Fadillah mengatakan cluster TKI berawal dari deportasi para TKI tersebut dari Malaysia melalui Tanjung Pinang, dimana terdapat 23 orang positif Covid-19. Padahal, kata dia, sesuai prosedur di Johor Malaysia, buruh migran yang keluar harus Covid-negatif dari hasil tes PCR.

    “Kami juga belum tahu bagaimana mereka keluar, setelah mereka dinyatakan positif juga. Itu rekor,” kata Arif, Jumat (16/4).

    Menteri Tenaga Kerja (Menaker), Ida Fauziyah mengimbau pekerja / buruh swasta dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) tidak pulang tahun ini. Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) terkait pembatasan kegiatan mudik Idul Fitri bagi pekerja / buruh dan PMI yang baru dikeluarkan.

    “Himbauan kepada pekerja / buruh swasta dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar tidak melakukan mudik lebaran pada Idul Fitri 1442 Hijriah pada 6 Mei hingga 17 Mei 2021,” kata Ida, Minggu (18/4).

    Ida mengatakan, penerbitan SE ini untuk mencegah dan memutus rantai Covid-19. Dimana kasus Covid-19 berpotensi meningkat akibat mobilitas masyarakat khususnya pekerja / buruh swasta dan PMI. Namun, mudik diperbolehkan bagi pekerja yang mengalami kondisi darurat.

    Antara lain, antara lain mudik karena keluarga yang sakit, anggota keluarga yang meninggal dunia, kondisi sedang hamil ditemani satu anggota keluarga, atau harus melahirkan ditemani maksimal dua orang.


    Source