TEGUH MARAMIS SANGKAL KORUPSI PROYEK RUMAH ADAT

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Teguh Maramis (50) Direktur CV Agung Sembada asal Tuban Jawa Timur terdakwa dalam kasus tindak pidana korupsi atas proyek pembangunan rumah adat KSB tahun 2014 lalu senilai Rp 1,9 Miliar pada Dinas Dikbudpora KSB, yang Senin (11/09) lalu telah dituntut pidana selama 6 tahun penjara potong tahanan disertai dengan kewajiban pembayaran uang pengganti sebesar Rp 172.354.702,52 Subsider 6 bulan serta dikenai pidana denda sebesar Rp 200 Juta Subsider 6 bulan kurungan, oleh tim Jaksa Penuntut Umum Kejari Sumbawa Jaksa Cyrilus Iwan Santosa Rumangkang SH dan Jaksa Fajrin Irwan Nurmansyah SH, karena terdakwa dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) Sub (1)-(b) ayat (2) dan (3) UU No 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Namun, pada sidang lanjutan pekan kemarin, Teguh Maramis bersama tim Penasehat Hukum khususnya Advocat Edi Sutikno SH dari Tuban Jawa Timur bersama Advocat Deni Nur Indra SH dari Mataram dalam pledoi pembelaannya menyangkal sejumlah tuduhan dan dakwaan yang dialamatkan kepada dirinya, bahwa dirinya tidak pernah merasa melakukan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan rumah adat KSB dimaksud, sebab kenyataannya sejumlah material termasuk didalamnya material kayu telah diadakan dan disiapkan bagi pembangunannya, tetapi akibat adanya kendala sehingga pembangunannya tidak dapat dilakukan, dan bahkan ratusan juta rupiah uang muka kerja yang telah diterima sebeumnya telah dikembalikan, sehingga Teguh Maramis tidak pernah merasa merugikan keuangan negara apalagi memperoleh keuntungan justru sebaliknya menanggung beban kerugian hingga mencapai sekitar Rp 168 Juta, oleh karena itu terdakwa meminta agar dapat membebaskan dari segala tuntutan pidana.
Untuk menanggapi Pledoi Pembelaan Terdakwa tersebut, Tim JPU Kejari Sumbawa diberi kesempatan oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Mataram diketuai Ferdinand Leonard Markus SH MH dkk, untuk menyampaikan tanggapan (Replik) pada sidang lanjutan digelar Senin (hari ini 02/10), dimana Tim JPU Kejari Sumbawa melalui Jaksa Farin Irwan Nurmansyah SH sendiri kepada Gaung NTB menyatakan keyakinan mendalam kalau perbuatan terdakwa telah dapat dibuktikan bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan rumah adat KSB tersebut, dengan memperhatikan fakta yang terungkap dipersidangan dari keterangan sejumlah saksi terkait, khususnya ahli dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia (BPK-RI), keterangan terdakwa dan sejumlah barang bukti yang diajukan, maka perbuatan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa telah terbukti adanya.
Perbuatan mana dilakukan terdakwa selaku Direktur CV Agung Sembada asal Tuban Jawa Timur selaku pemenang tender proyek pembangunan rumah adat KSB tahun 2014 dengan nilai penawaran Rp 1,9 Miliar, dengan masa kontrak pelaksanaan pekerjaan selama 90 hari kalender terhitung sejak 23 September – 22 Desember 2014 dengan pencairan uang muka 30% sebesar Rp 570 Juta, namun kenyataannya setelah berakhir kontrak progress pekerjaan yang dihasilkan mencapai 5,24% dengan nilai Rp 103.665.252, sehingga terjadi kerugian negara sesuai dengan hasil pemeriksaan dan perhitungan cermat yang dilakukan Tim BPKP-RI adalah sebesar Rp 463.081.202.
Oleh karena perbuatan terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memperhatikan hal-hal yang memberatkan terdakwa tidak mendukung upaya Pemerintah dalam pemberantasan korupsi dan bahkan terdakwa pernah melarikan diri (DPO) maupun memperhatikan hal-hal yang meringankan terdakwa berlaku sopan dalam persidangan, terdakwa sudah ada upaya pengembalian kerugian keuangan negara sebesar Rp 290.726.500 dan terdakwa belum pernah dihukum, maka tim Jaksa tetap bertahan pada dakwaan dan tuntutan pidana yang disampaikan, ujarnya.