Tergenang Air Hujan, RKBS SDN Labuhan Alas Banyak Nyamuk

Alas, Gaung NTB
Ruang Kelas Belajar Sementara (RKBS) SDN Labuhan Alas saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Bayangkan saja, lokasi RKBS berada didaerah dataran rendah, bekas kubangan kerbau berada cukup dekat dengan pegunungan. Jika turun hujan dengan intensitas ringan maupun lebat maka air hujan dari pegunung akan mengalir ke RKBS lalu tergenang serta tidak ada jalan keluar untuk pembuangan akhir.
Kepala Sekolah SDN Labuhan Alas Hartono, SPd kepada Gaung NTB Senin (11/2) mengatakan pihak sekolah juga tidak dapat melakukan gotong royong membuat drainase karena percuma lokasi sekolah didataran rendah sedangkan tanah di RKBS lokasi SLB maupun SMPN 3 Alas yang berlokasi disampingnya berada didataran lebih tinggi dari sekolah tersebut.
“Air yang menggenangi setinggi mata kaki menyebabkan para murid dan guru kadang belajar tanpa menggunakan alas kaki (sepatu) serta lesehan dibawah karpet. Tidak cukup sampai disitu, sarana prasarana kursi dan meja terutama di kelas 1 dan 2 rusak parah akibat gempa 6,9 SR yang meluluhlantahkan Pulau Sumbawa bagian barat,” jelasnya.
Pihak sekolah mengharapkan pemerintah melalui Diknasbud dan PUPR dapat mencari jalan keluar karena kondisi ini membuat aktivitas belajar mengajar terganggu.
“Kami meminta petugas kesehatan UPT. Puskesmas Alas untuk turun mengecek kondisi sekolah dengan memberikan bantuan lotion anti nyamuk, dan memberantas sarang nyamuk melalui PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M plus yakni menghindari gigitan nyamuk dengan memasang obat nyamuk ataupun fogingisasi,” lanjutnya.
Menurutnya, selama menunggu pembangunan ruang kelas permanen, proses KBM akan dilakukan di RKBS. Oleh sebab itu, Hartono mengharapkan Pemda (Diknasbud, PUPR dan BPBD) dapat mencari jalan keluar agar proses KBM tidak terganggu.
“RKBS sekolah kami menumpang dihalaman SMPN 3 alas, bangunan SD kami berada paling belakang dan paling dekat dengan pegunungan, kondisi tanahnya rendah apabila hujan maka air akan tergenang, sulit untuk kami membuat drainase, air dibuang ke sebelahnya juga tidak bisa karena dataran tinggi, sampah dan air menumpuk menghasilkan bau tak sedap yang mengundang banyak nyamuk, kami sangat khawatir terkena DBD dan Malaria” katanya.
Ditambahkan, Ellis MA Pd guru kelas 2 itu mengharapkan dinas kesehatan khususnya UPT Puskesmas Alas dapat turun ke lokasi sekolah untuk memberikan bantuan dan penyuluhan. Itu sebagai usaha mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan jentik nyamuk seperti penyakit malaria dan demam berdarah.
“Foging disekolah dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit demam berdarah tapi itu hanya bersifat sementara” ungkapnya.
Lebih jauh Alwy SPd menyebutkan, sirkulasi udara yang tidak bagus, menyebabkan anak-anak kehilangan konsentrasi belajar.
Untungnya kata Alwy, di halaman sekolah banyak pohon kelapa apabila kondisi tidak memungkin belajar di RKBS yang panas dan banyak nyamuk, belajar bisa dilakukan dibawah pohon kelapa. Tetapi itu dilakukan apabila tidak turun hujan.
“karena kursi bangku rusak akibat gempa Kami belajar dibawah dengan karpet, kami sebagai guru kesulitan mengelola kelas” sebutnya.
Kalau pun bangunan sekolah permanen rampung timpal Alwy, di sekolahnya pasti akan kekurangan meja dan kursi.
“Kemarin dari Diknas sudah memberikan solusi untuk pengadaan meja kursi diadakan secara bertahap melalui dana BOS” namun proses itu masih lama demikian tutup Alwy.