Tersangka Predator Anak di Lunyuk Terancam Kebiri Kimia

Sumbawa Besar, Gaung NTB  – Kasus kekerasan seksual dimasa pandemi di kabupaten Sumbawa yang menyita perhatian banyak kalangan hingga menjadi isu nasional adalah tindak asusila yang diduga dilakukan TA (28) seorang mantan oknum ASN disalah satu puskesmas kepada 11 anak SD dan SMP di salah satu kecamatan wilayah selatan Sumbawa. Saat ini, TA telah diberhentikan sementara sebagai ASN berdasarkan SK Bupati Sumbawa nomor 809 tahun 2020 pasca ditingkatkan kasusnya sebagai tersangka oleh penyidik Polres Sumbawa.

Kasus ini masih dilakukan pengembangan penyidikan di unit PPA Pores Sumbawa setelah penyidik mengantongi sejumlah bukti kuat atas perbuatan TA. Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Sumbawa melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Aipda Arifin Setyoko saat ditemui Gaung NTB senin (6/7).

Menurutnya, tersangka terancam pasal 81 juncto pasal 76D UU nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman pidana mati atau penjara seumur hidup, atau dikebiri kimia atau penjara paling singkat 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Disebutkan, itulah tuntutan kepada tersangka, tetapi kembali lagi semuanya tergantung pada keputusan hakim pada persidangan nanti.

Lebih jauh disampaikan, perbuatan TA dilakukan pada lebih dari 3 anak sehingga disebut predator, selanjutnya berdasarkan hasil penyidikan tersangka melakukan suntik KB pada beberapa korbannya dan menggunakan kondom sehingga aksi tersebut terencana dengan baik itulah salah satu pemberat tuntutan hukumannya nanti di pengadilan.

Dijelaskan, berdasarkan hasil visum 6 orang adalah korban persetubuhan, dan 5 korban lainnya adalah korban pencabulan dengan pengiriman poto bugil. Selain itu, pihaknya sudah memeriksa 14 orang saksi termasuk saksi korban.

Sementara, kasus ini juga melibatkan psikolog dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) bahkan tim dari Provinsi turun langsung ke lapangan sesuai intruksi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. LPA memberikan pendampingan kepada korban selama menjalani proses di kepolisian hingga persidangan nanti. Sedangkan psikolog akan melakukan trauma healing guna memulihkan kondisi psikis korban.

Ternyata, hubungan emosional yang terbangun antara pelaku dengan korban begitu kuat. Menurut Arifin, dari pemeriksaan psikolog, kondisi mental korban cukup stabil dan tidak ada tanda-tanda mengkhawatirkan bahkan beberapa korban ini sudah sangat nyaman bersama pelaku dan membelanya.

“Ada juga Psikolog yang didatangkan dari Polda NTB guna melakukan pemeriksaan jiwa dan prilaku tersangka. Hasil pemeriksaannya sudah dibawa ke Polda NTB untuk didalami lebih jauh,” tambahnya.

Arifin Setyoko mengungkapkan, kasus ini berhasil terkuak setelah TA mengajak salah satu korban bermain (berhubungan badan) namun si korban tidak mau, kemudian TA mengancam korban hingga korban ketakutan dan melaporkan perbuatan TA kepada paman korban yang berada di Sumbawa. Oleh paman korban menelpon ayah korban yang saat itu sedang berada di sawah, mendapatkan informasi tersebut ayah korban langsung pulang dan menanyakan kepada sang anak. Setelah mengakui bahwa dirinya adalah korban kekerasan seksual, ayah korban menanyakan kembali siapa saja yang mengalami nasib sama sepertinya hingga disebutkanlah nama-nama teman lainnya yang juga sebagai korban. Kasus ini sebenarnya sudah terjadi sejak akhir tahun 2018 hingga terjadi lagi pada februari 2020 dengan modus les malam dan pembentukan tim kelompok ilmiah remaja pada salah satu sekolah SD dibagian selatan Sumbawa.

“Sebenarnya, kalau mau dikembangkan lebih jauh lagi bisa jadi korbannya bertambah, akan tetapi kami memikirkan kembali tentang kondisi psikologis korban, hingga apabila ada lagi korban yang ingin melaporkan atas perbuatan TA maka kami akan menerimanya dan melakukan penindakan,” demikian tutup Arifin Setyoko. (Gks)

Tags: Polres Sumbawa