Tidak Divaksinasi, Ratusan Buruh Migran Ditahan di Nunukan

    Mereka yang sebelumnya bekerja di Malaysia kesulitan untuk pulang.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ratusan TKI ditahan di Nunukan, Kalimantan Timur. Para pekerja yang sebelumnya bekerja di Malaysia kesulitan untuk kembali ke kampung halaman karena belum mendapatkan kuota vaksinasi. Mereka wajib menunjukkan sertifikat vaksin untuk dapat melakukan perjalanan jauh ke luar pulau. Apalagi status mereka adalah TKI dari luar negeri.

    Berdasarkan pengakuan Maria, salah satu TKI yang pernah bekerja di Sarawak, Malaysia, dirinya dan anaknya gagal pulang ke Adonara, NTT, karena tidak memiliki sertifikat vaksin. Sedangkan Maria mengaku telah membayar 2.000 ringgit atau Rp. 7 juta untuk travel agent yang mengurus kepulangannya ke Indonesia. Agen perjalanan, kata Maria, tidak mampu memenuhi persyaratan vaksin bagi pekerja migran.

    Buruh migran yang ditahan sekembalinya juga melapor ke kantor Unit Pelaksana Teknis Badan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (UPT BP2MI) di Nunukan. Total, dikutip dari siaran pers Kantor Staf Presiden (KSP), ada 204 TKI asal NTT yang juga menunggu kuota vaksinasi untuk pulang.

    “Kami tidak menangkap mereka, tetapi menyerahkan diri ke kantor saya,” kata Hotma Victor Sihombing, Kepala UPT BP2MI Nunukan. Victor mengatakan agen perjalanan yang telah menerima pembayaran dari pekerja migran tidak memenuhi kewajibannya.

    BP2MI, kata Victor, masih berupaya memberikan jatah vaksin kepada TKI. Jika tidak segera divaksinasi, TKI akan ditahan di Nunukan lebih lama. BP2MI, kata Victor, telah berupaya agar daerah tujuan TKI dapat menerima kedatangannya hanya dengan surat PCR.

    “Daerah tujuan masih tidak mau (menerima). Tapi kami terus bekerja sambil berusaha mendapatkan vaksin untuk mereka,” kata Victor.



    https://www.republika.co.id/berita/qxe4x1487/belum-divaksin-ratusan-pekerja-migran-tertahan-di-nunukan