TikTok digugat karena diduga menggunakan data anak

TikTok diduga mengambil informasi pribadi anak-anak seperti nomor telepon dan lokasi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – TikTok menghadapi gugatan dari mantan komisaris anak untuk Inggris, Anne Longfield tentang cara mengumpulkan dan menggunakan data anak. Klaim ini diajukan atas nama jutaan anak di Inggris Raya dan Uni Eropa yang telah menggunakan aplikasi video.

Pengacara mengajukan tuduhan bahwa TikTok mengambil informasi pribadi anak-anak, termasuk nomor telepon, video, lokasi, tanpa peringatan yang memadai. Anak-anak dan orang tua tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan data tersebut.

Menanggapi hal tersebut, TikTok mengatakan selalu menjaga privasi dan keamanan aplikasinya. Padahal, kedua hal tersebut menjadi prioritas utama TikTok untuk terus dijaga dan dilindungi.

“Kami memiliki kebijakan, proses, dan teknologi yang kuat untuk membantu melindungi semua pengguna kami, dan pengguna remaja kami pada khususnya. Kami yakin klaim ini tidak pantas,” kata TikTok. BBC, Rabu (21/4).

TikTok memiliki lebih dari 800 juta pengguna di seluruh dunia. Perusahaan induk ByteDance menghasilkan miliaran keuntungan tahun lalu, dengan sebagian besar berasal dari pendapatan iklan.

Sementara itu, Longfield menceritakan BBC alasannya adalah untuk fokus pada TikTok. Menurutnya, dibandingkan platform media sosial lainnya, TikTok memiliki kebijakan pendataan yang berlebihan.

“TikTok adalah platform media sosial yang sangat populer yang telah membantu anak-anak tetap berhubungan dengan teman-teman mereka selama tahun yang sangat sulit. Namun, di balik lagu-lagu yang menyenangkan, tantangan menari dan tren sinkronisasi bibir, ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan.,” Kata Longfield.

Ia menuding perusahaan itu sebagai layanan pendataan yang menyamar sebagai jejaring sosial yang sengaja menipu orang tua. Kasus ini diwakili oleh firma hukum Scott and Scott. Mitra Tom Southwell mengatakan dia yakin informasi yang dikumpulkan oleh TikTok mewakili pelanggaran berat undang-undang perlindungan data Inggris dan UE.




Source