Tokoh Masyarakat Sulawesi Selatan Desak Pendidikan Moderasi Beragama di Sekolah dan Madrasah

TRIBUNNEWS.COM – Setiap daerah di Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam, mulai dari suku, suku, hingga agama, termasuk di Sulawesi Selatan. Karakter khas ini kerap melahirkan fundamentalisme yang kerap memicu konflik dan radikalisme.

Kedua potensi di atas telah memasuki pendidikan formal, khususnya di sekolah dan madrasah. Bahkan, hasil penelitian yang telah ditemukan oleh Puslitbang Agama Makassar menunjukkan bahwa ada beberapa siswa yang telah memperoleh pemahaman fundamentalisme dari beberapa guru dan alumni.

Melihat tantangan tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) pada masa pemerintahan Kabinet Indonesia Maju mengorientasikan beberapa kebijakan pembangunan di bidang agama dan pendidikan agama ke moderasi beragama.

Dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama tahun 2019, terdapat empat indikator dalam implementasi moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodasi budaya lokal.

Seiring dengan 4 indikator moderasi beragama, Kementerian Agama Republik Indonesia juga berupaya mendorong kebijakan penyiapan sistem pembelajaran yang menghasilkan lulusan yang mampu memahami dan mengamalkan moderasi beragama.

Dengan tujuan untuk memperkuat keempat indikator moderasi beragama di atas, Pusat Penelitian dan Pengembangan Keagamaan Makassar melakukan kajian terhadap pemikiran tokoh masyarakat di Sulawesi Selatan tentang pendidikan moderasi beragama.

Badan Litbang Agama Makassar melakukan wawancara mendalam dengan 72 tokoh agama, tokoh adat, tokoh pendidikan, dan tokoh pemerintahan. Penelitian dilakukan di sepuluh kota/kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu: Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Baaeng.

Dari hasil penelitian ditemukan beberapa poin penting mengenai pandangan tokoh masyarakat Sulawesi Selatan terhadap pendidikan moderasi beragama.

Materi pendidikan yang membentuk karakter religiusitas

Menurut tokoh masyarakat di Sulawesi Selatan, pendidikan moderasi beragama harus mampu membentuk karakter religiusitas, yang termasuk karakter spiritualitas.

Oleh karena itu, tokoh masyarakat juga berpendapat bahwa materi utama pendidikan moderasi agama perlu mencakup fitrah manusia sebagai makhluk moderat, kebijaksanaan, samaawiyyatun, nuuraniyyatun, hayyatun, allaamatun, bilquwwati, faalatun, agama rahmat untuk semua alam, ajaran agama yang dijelaskan secara tekstual. dan kontekstual, ajaran agama tentang kebangsaan, kemajemukan, toleransi, dan anti kekerasan, dan moralitas.

Berdasarkan kearifan lokal dan disebarluaskan melalui pendidikan through

Tokoh masyarakat Sulawesi Selatan juga berharap agar karakter moderasi dapat terbentuk dari nilai-nilai kearifan lokal. Menurut tokoh masyarakat, ada 41 kearifan lokal yang dapat dijadikan bagian dari materi pendidikan moderasi beragama, antara lain: Kearifan lokal memiliki nilai karakter seperti masirik, appaka sulapa, pangngadakkang/pangadereng, kearifan lokal memiliki nilai pemersatu seperti sipak atau sipakalebbi, tradisi lokal memiliki nilai religi seperti maudu lompoa, dan tradisi lokal bernilai budaya seperti tudang sipulung.

Selain itu, tokoh masyarakat juga menilai perlunya menerapkan pendidikan moderasi beragama di satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Untuk pendidikan formal, jika dikaitkan dengan kebijakan pembatasan mata pelajaran, maka pendidikan moderasi keagamaan dapat diajarkan secara integratif, pengayaan, sintesis, ekstrakurikuler, atau muatan lokal.

Sedangkan untuk pendidikan nonformal, pembelajaran moderasi keagamaan dapat berbentuk majelis taklim. Untuk jenis pendidikan informal ini, pembelajaran dapat dilakukan dengan penguatan pemahaman calon orang tua tentang moderasi beragama dalam kegiatan kursus calon pengantin.

Tokoh masyarakat juga menyarankan model pembelajaran pendidikan berbasis kecakapan hidup sehingga siswa dapat mengembangkan kepribadian, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkembang secara sosial.

Metode ceramah, pembiasaan, eksperimen, atau digital dapat digunakan agar pendidikan moderasi keagamaan berlangsung secara efektif.

Perlunya pendidikan moderasi keagamaan yang sistemik di sekolah dan madrasah

Tokoh masyarakat menilai perlu adanya kebijakan berupa inisiasi pengembangan akademik, kelembagaan, sistem manajemen, dan guru agar proses pembelajaran berjalan efektif.

Mereka juga merekomendasikan penyediaan buku Pendidikan Moderasi Keagamaan, yang dapat dilakukan dengan mencetak buku pelajaran baru, meminta tokoh-tokoh tertentu untuk menulis buku, serta implementasi digital dengan membuat buku. situs web materi tertentu yang mengandung materi moderasi keagamaan.

Secara umum, tokoh masyarakat berpendapat bahwa pendidikan moderasi beragama perlu memasukkan materi yang bersumber dari nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Sistem pembelajaran dan kebijakan penyelenggaraan pendidikan moderasi beragama yang bermakna dengan wasatiyah.

Lebih lanjut, tokoh masyarakat di Sulawesi Selatan juga merekomendasikan penyusunan sistem pembelajaran yang sistemik dan berbasis kurikulum untuk Pendidikan Moderasi Keagamaan. Hal ini mendesak karena masyarakat saat ini masih rentan untuk terlibat dalam radikalisme.

Berdasarkan masukan dari tokoh masyarakat di atas, maka Pusat Penelitian dan Pengembangan Keagamaan Makassar merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Dengan adanya desakan dari tokoh masyarakat untuk menerapkan pendidikan moderasi beragama di sekolah dan madrasah, pemikiran 72 tokoh masyarakat tentang pendidikan moderasi agama harus diakomodasi.

Kedua, perlu dibuat regulasi untuk mendukung pendidikan moderasi beragama. Pendidikan Moderasi Keagamaan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, baik politik, ekonomi, maupun sumber daya manusia, baik di sekolah maupun madrasah.

Ketiga, pendidikan moderasi agama perlu memuat materi tentang ajaran agama secara spiritual, ajaran agama yang dimaknai secara tekstual dan kontekstual, dan kearifan lokal (budaya lokal).

Keempat, Pembelajaran moderasi keagamaan perlu dilaksanakan secara fleksibel, baik di satuan pendidikan formal, nonformal, maupun informal serta berorientasi pada pengembangan diri dan pembentukan karakter moderasi, dengan metode yang tepat.



https://www.tribunnews.com/nasional/2021/06/15/tokoh-masyarakat-sulsel-desak-pendidikan-moderasi-beragama-di-sekolah-dan-madrasah