Tolak Ide ESL, De Bruyne: Hal Paling Penting adalah Persaingan

De Bruyne menyoroti kurangnya semangat kompetisi yang sehat dan kesempatan yang sama.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER – Gelandang Manchester City, Kevin De Bruyne angkat bicara terkait rencana perebutan gelar European Super League (ESL). Salah satu aspek yang disoroti oleh gelandang Belgia tersebut terkait ide dan konsep ESL adalah kurangnya semangat kompetisi yang sehat dan kesempatan yang sama bagi semua tim.

Sebelumnya ESL sudah memaparkan format kompetisi, termasuk jumlah kontestan hingga 20 tim. Dari 20 tim tersebut, 15 tim di antaranya akan tetap berlaga setiap tahun, sedangkan lima tim lainnya ditentukan berdasarkan pencapaiannya di kompetisi domestik pada musim berikutnya.

Selain itu, belum ada mekanisme promosi dan degradasi, apalagi untuk 15 tim tersebut. Kondisi ini sebenarnya membuat ESL dianggap sebagai kompetisi tertutup yang hanya dikuasai segelintir klub besar Eropa.

Tak hanya itu, dengan kondisi tersebut, ESL justru menumbuhkan semangat anti persaingan dan sportivitas. Tim yang cenderung lebih kecil tidak memiliki kesempatan untuk mengukur kapabilitas dengan tim yang relatif lebih besar.

Merujuk pada pengalamannya yang berasal dari kota kecil di Belgia, dan akhirnya bisa tampil di Bundesliga Jerman dan Liga Inggris, De Bruyne mengatakan bahwa aspek persaingan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuannya. Semangat untuk bisa bersaing dengan tim yang lebih besar bisa membuka kemungkinan tim untuk berkembang.

“ Saya telah bekerja keras dan bersaing dengan siapa pun untuk meraih kemenangan. Yang terpenting adalah kompetisi dan kompetisi, ” kata De Bruyne dalam unggahan di akun media sosialnya seperti dilansir EFE, Rabu (21/4).

Terlepas dari berbagai polemik yang muncul akibat ESL, eks gelandang Chelsea ini juga mengatakan, polemik ini bisa menjadi momentum perbaikan dan evaluasi di industri sepak bola Eropa. Peningkatan ini, lanjut De Bruyne, hanya bisa dicapai melalui persatuan berbagai pihak yang berkepentingan dengan industri sepak bola. Tak hanya itu, gelandang berusia 29 tahun tersebut mencoba memahami latar belakang pembentukan ESL.

“ Saya tahu ini masalah bisnis besar dan saya bagian dari bisnis itu. Namun, saya masih anak kecil yang suka bermain sepak bola. Ini bukan hanya tentang satu entitas, ini tentang sepak bola. Harap tetap menginspirasi generasi pesepakbola berikutnya dan para suporter dapat menjaga harapan mereka tetap tinggi, ” kata De Bruyne.




Source