Tunggakan Peserta BPJS Mandiri Capai 900 Juta

umbawa Besar, Gaung NTB
Sudah hukum mutlak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ketika ada kewajiban maka akan ada hak yang harus terpenuhi. Rupanya perjalanan Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kabupaten Sumbawa, menanggung beban yang cukup besar. Pasalnya pertengahan tahun 2016 ini, total tunggakan peserta BPJS mandiri sudah mencapai Rp 900 juta.
Menurut Kepala BPJS Kesehatan setempat, Abdul Muin kepada Gaung NTB, Kamis (8/9), tunggakan ini cukup mempengaruhi operasional BPJS, termasuk juga dengan pembayaran ke pihak rumah sakit yang selama ini dibayar secara rutin. “Dari 60% peserta mandiri, baru sekitar 15% yang membayar tunggakan dan sekitar 45% masih menunggak, kelasnya bervariasi dan parahnya lagi ada tunggakan yang lebih dari setahun,” ujarnya.
Dijelaskannya, tagihan tunggakan ini biasanya dilakukan saat peserta BPJS Mandiri tersebut sakit. “Jadi caranya ketika peserta melakukan pengobatan di rumah sakit, BPJS tidak akan mengklaim ketika tunggakkannya belum dibayar. Jadi bayar dulu tunggakan. Aturan baru dari BPJS adalah jumlah denda yang dibayar pada saat pembayaran itu adalah 2,5% dari total tunggakan,” terangnya.
Mulai 1 September sambungnya, sudah diberlakukan sistem aplikasi transaksi bank pembayaran BPJS. Ketika peserta membayar tagihan BPJS_nya, maka aplikasi bank akan menampilkan semua data yang terdaftar di Kartu Keluarga. “Jadi semua tagihan anggota keluarga harus dibayar terlebih dahulu baru bisa diklaim oleh BPJS lewat aplikasi bank ini. Karena itu, agar masyarakat peserta BPJS Mandiri tidak kaget nantinya,” tandasnya.
Di satu sisi lanjut Muin, nilai dari makna sistem BPJS yang dijalankan sekarang harus dipahami, bahwa inilah bentuk nyata semangat gotong royong antar sesama warga negara. “Tata kelola BPJS itu adalah semangat gotong royong. Artinya yang sehat membantu yang sakit dan begitu seterusnya. Karena kalau kita hitung pelayanan dari jasa kesehatan tidak akan bisa mencukupi dari angsuran yang ada,” tegasnya.