Tuntas Jambanisasi, PDPGR Pemda KSB Garap Bedah Rumah

Taliwang, Gaung NTB
Kebijakan strategis kepala daerah diharapkan dapat terlaksana, tidak hanya diatas kertas tapi sesuai dan terealisasi di lapangan dengan baik. Upaya tadi nampaknya yang ingin di wujudkan Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dr H W Musyafirin, MM.
Pasca membangun ribuan jamban bagi warga tak mampu, kini perhatian  pemerintah fokus melaksanakan bedah rumah tidak layak huni. Sebagai bentuk wujud komitmen pemda benar-benar bebas rumah tidak layak huni. Gerakan gotong royong masih menjadi kekuatan utama yang diletakkan kepala daerah.    
Untuk memastikan konsep gotong royong ini sesuai dengan harapan, Bupati semakin rutin turun ke bawah. Ia ingin melihat dari dekat serta memimpin gotong royong. Pagi, siang dan sore nyaris tidak ada waktu untuk tidak menengok kondisi warga. “Saya yakin, semua pihak pasti kan membantu jika kita rakyat mau bergotong royong,” ujar bupati disela sela meninjau korban kebakaran di Dusun Batu Nampar, RT 02 RW 04 kelurahan Telaga Bertong, belum lama ini.
Kepala daerah telah berbicara kepada banyak pihak, perusahaan swasta dan BUMN, untuk mengalokasikan dana Corporate Sosial Responsibility (CSR) untuk membantu korban bencana seperti korban kebakaran rumah, asalkan masyarakat bisa bergotong royong dulu.
H Firin—sapaan akrabnya, mengaku bahwa pemberian bantuan bencana seperti korban kebakaran konsepnya sama, tetap diawasi gotong royong oleh agen peliuk PDPGR. 
Sementara pemerintah mendata dan menganalisis kerugian, barulah disampaikan untuk dibantu oleh BUMN seperti bank bank atau perusahaan swasta. Cara penyaluran berbeda diberikan bagi masyarakat kurang mampu yang rumahnya bakal dibedah. Bantuan ini yang sumber berbeda diambil langsung melalui APBD.
Melihat kedalaman kemiskinan. “Maksudnya, sejauh mana kondisi seorang warga, apakah sangat sulit dan sudah tak mampu atau memiliki sumber ekonomi yang jelas. Sebatang kara dan Lansia, inilah menurutnya yang membutuhkan intervensi pemerintah secara langsung,” tukas H Firin. 
Sasaran utama, termasuk kaum penyandang masalah sosial seperti penyandang cacat atau disabilitas.
Sejauh ini data yang masuk, Seteluk memiliki kedalaman masalah sosial yang tinggi. Seperti sasaran bantuan Lansia, bedah rumah hingga bantuan sosial lainnya. “Bedah rumah dan bantuan sosial bagi Lansia saat ini masih dalam tahap verifikasi di desa,” ujarnya. 
Beberapa sumber menyebutkan kepala daerah, ingin melihat dan mengecek langsung kondisi sosial masyarakat. 
Tujuannya ingin tahu situasi sosial dan kedalaman masalah sosial dilapangan, agar bisa menjadi bahan evaluasi. 
Kondisi ini disambut antusias warga, menurut warga, dengan turunnya pemangku kebijakan seperti bupati semakin memangkas jarak antara masyarakat dan pemerintah. Mereka bebas berinteraksi dan memberikan masukan. Cara ini digunakan bupati untuk mengontrol kerja agen PDPGR ini dilapangan.
“Setiap subuh, pagi dan sore hari pak bupati berkeliling menemui warga. Bahkan langsung saja memimpin gotong royong, tanpa terikat protokoler,” ujar Kabid Sosial Disosnakertrans KSB, Manurung SPd.
Menurutnya, ini cara yang tepat untuk memaksimalkan komunikasi masyarakat dengan pemerintah, serta mengkampanyekan konsep dan nilai dasar gotong royong secara langsung dilapangan. “Dialog langsung pak bupati dengan warga cara beliau mengkampanyekan programnya. Tidak perlu repot dan berdebat diruang rapat melulu,” timpalnya.
Tampak puluhan warga berkumpul.  RT, Kadus,  dan staf BPBD kabid sosial serta sejumlah aparatur terkait lainnya. Bupati memimpin sekaligus melihat dan berdialog dengan, Jumandi (43).
Ayah dari lima orang anak ini, terpaksa harus mengungsi dirumah tetangga, setelah rumah satu satunya tempat mereka berteduh dilalap si jago merah hingga rata dengan tanah.
Tak ada yang tersisa. Uang, barang berharga lainnya semuanya ludes. Rumah Jumandi terbakar diduga akibat korsleting arus listrik. BPBD setempat mencatat, kerugian yang timbul akibat musibah kebakaran yang terjadi, Sabtu (9/9) lalu itu mencapai Rp 55 juta. “Bupati menginstruksikan agar rumahnya dibangun ulang semi permanen. Dibuat agak luas mengingat banyaknya jumlah anggota keluarga,” kata sumber BPBD setempat.
Jumardin dan sang istri berterimakasih atas perhatian dan kunjungan rombongan bupati disore itu. Meski terpaksa menjamu dengan kopi dan sedikit makanan ringan seadanya, ia mengaku bersyukur bisa bertemu secara langsung dengan orang nomor satu di Bumi Pariri Lema Bariri tersebut. “Terimakasih banyak bupati. Pesan beliau saya diminta berbicara dengan ketua RT dan warga untuk sama sama bergotong royong,” tandasnya.