Turun 4,1 Persen, IHSG Maret Menekan Imbal Hasil Obligasi AS

    Sejak awal tahun, IHSG hanya menguat tipis 0,1 persen.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sepanjang Maret lalu. Secara bulanan, IHSG terkoreksi 4,1 persen setelah sebelumnya menguat 6,5 persen pada Februari. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG hanya menguat tipis 0,1 persen.

    Kepala Informasi Investasi Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, mengatakan pergerakan IHSG bulan lalu diwarnai sejumlah sentimen negatif. Salah satunya, sebagian besar rilis data ekonomi Indonesia pada bulan Maret masih kurang mengalami peningkatan yang berarti.

    “Jadi, pelaku pasar cenderung berhati-hati dengan strategi investasinya,” kata Roger di acara Mirae Asset Media Day, Kamis (8/4).

    Selain itu, kenaikan yield obligasi AS juga menekan laju pergerakan pasar saham. Kekhawatiran tapering dan kenaikan suku bunga acuan di AS, serta membaiknya ekonomi AS dan meningkatnya inflasi, membuat investor asing menghitung ulang porsi investasinya di negara berkembang.

    Menurut Roger, hal tersebut berdampak pada penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang di dunia. Di Indonesia, pengaruh kenaikan yield obligasi AS menyebabkan nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai Rp14.500 per dolar AS.

    Dari 11 sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI), menurut Roger, terdapat delapan sektor yang mengalami pelemahan selama bulan Maret dan tiga sektor lainnya mengalami penguatan. Pelemahan saham topi besar seperti BBCA dan BBRI menjadi penyeimbang pergerakan IHSG.

    Sektor dengan kinerja terbaik selama sebulan terakhir adalah pengangkutan sebagai penggeraknya yaitu saham ASSA yang naik 33,5 persen. Sektor berkinerja terburuk, teknologi, yang turun 11,6 persen, menyusul industri dasar yang turun 8,0 persen.

    Selanjutnya, pergerakan harga komoditas turut memengaruhi pergerakan IHSG di bulan Maret. Kenaikan harga komoditas batu bara menjadi sentimen positif bagi saham-saham terkait komoditas ini.

    Namun untuk komoditas nikel terjadi penurunan sebesar 13,1 persen. Sehingga saham-saham terkait nikel mengalami tekanan, seperti ANTM yang minus 20,8 persen dan INCO yang negatif 27,9 persen.

    Menurut Roger, pemberitaan terkait BPJS Ketenagakerjaan yang menurunkan porsi sahamnya turut mendorong penurunan nilai IHSG. Rencana itu membuahkan saham chip biru terkena aksi jual.




    Source