UNS Mulai Mengadakan Uji Coba Kuliah Tatap Muka

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mulai menggelar uji coba kuliah tatap muka pada Rabu (7/4). Pada tahap pertama, terdapat tiga fakultas yang melaksanakan uji coba perkuliahan tatap muka yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Olahraga (FKOR). Sidang hanya melibatkan mahasiswa semester dua karena belum pernah masuk kampus sejak diterima di UNS.

Rektor UNS, Jamal Wiwoho mengatakan, sidang kuliah tatap muka dilaksanakan setelah dibuat keputusan bersama (SKB) antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri sehingga bahwa sekolah dan perguruan tinggi mulai terbuka. Selain itu, Ditjen Dikti juga menerbitkan surat edaran terkait perkuliahan tatap muka.

“Jadi kami ingin mencoba membuka diri agar kuliah tatap muka atau offline ini bisa dimulai,” kata Jamal kepada wartawan saat meninjau sidang kuliah tatap muka di FK UNS, Rabu (7/4).

Ia menegaskan, penyelenggaraan perkuliahan tatap muka harus memperhatikan dua hal, yakni bersyarat dan bertahap. ‘Bersyarat’ berarti dilakukan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Antara lain menjaga jarak, memakai masker, cuci tangan, pengecekan suhu udara, termasuk izin orang tua dan kemauan siswa.

“Tidak bisa diharuskan. Jadi kalau siswa tidak mau belajar tatap muka, Iya oke oke, kita atur agar tetap online. Jadi ada kuliah tatap muka, ada juga kuliah online, ”imbuh Guru Besar Hukum UNS ini.

Sedangkan ‘bertahap’, artinya pelaksanaan perkuliahan tatap muka tidak melibatkan langsung seluruh mahasiswa dari semester pertama hingga semester akhir. Sebaliknya, secara bertahap. UNS mengambil kebijakan untuk memprioritaskan mahasiswa semester awal mengikuti uji coba kuliah tatap muka.

Jika satu program studi (prodi) memiliki 100 mahasiswa, maka hanya 50 persen yang melakukan uji coba tatap muka. Selain itu, kapasitas dibatasi maksimal 25 siswa dalam satu ruangan. Durasi perkuliahan juga dibatasi. Jika biasanya satu periode kredit adalah 50 menit, maka dipersingkat menjadi 25-30 menit. Dalam satu hari kuliah tatap muka diperbolehkan maksimal 50-60 menit.

“Kita coba dulu berapa hari, nanti kita evaluasi lagi. Karena Iya jangan sampai ada kluster soal pembukaan kampus, ”jelas Jamal.

Selain itu, UNS juga memprioritaskan dosen yang sudah divaksinasi Covid-19 untuk mengajar secara tatap muka. Dari 1.700 dosen yang diajukan, baru sekitar 600 yang divaksinasi. Dosen yang telah divaksinasi terdiri dari pimpinan universitas dan fakultas, termasuk ketua program studi, serta dosen yang telah berusia di atas 60 tahun.

Nantinya, jika penyebaran kasus Covid-19 lebih terkontrol dan target vaksinasi lebih luas, UNS akan semakin melonggarkan kuliah tatap muka. Khusus untuk mahasiswa semester akhir sebelum ujian skripsi. UNS juga sudah mulai mencoba untuk mengadakan tatap muka tatap muka, tesis dan sesi disertasi. Selain itu juga dibukanya laboratorium untuk praktikum mahasiswa.

“Hari Senin tanggal 12 saya menjajal disertasi secara tatap muka. Jadi mulailah pelan-pelan. Jangan sampai kita tidak berani mencoba karena nyatanya dengan disiplin yang tinggi tentang protokol Covid-19 dan meningkatkan kekebalan tubuh, insya Allah kita bisa. Termasuk upaya agar kita tidak terkena Covid-19 dengan cara vaksinasi, ”kata Rektor.

Di sisi lain, pimpinan kampus juga menuntut mahasiswa yang berasal dari luar kota untuk membawa hasil tes cepat untuk menghadiri kuliah tatap muka. Pada hari itu, 29 mahasiswa mengikuti sidang kuliah tatap muka di FH UNS. Dari jumlah tersebut, kelas satu berisi 15 orang dan kelas kedua diikuti 14 orang. Adapun jumlah mahasiswa FK UNS sebanyak 41 orang, terdiri dari mahasiswa D-4 Kebidanan dan Program Studi S1 ​​Psikologi.

Rektor memastikan mahasiswa yang mengikuti sidang PTM sudah mendapat izin dari orang tua dan sudah menjalani rapid antigen test.


Source