Upaya Menyelamatkan Jiwasraya hingga Direstrukturisasi

91,3 persen pemegang polis kategori bancassurance telah berpartisipasi dalam restrukturisasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah melalui Tim Percepatan Restrukturisasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) berupaya semaksimal mungkin dalam melaksanakan program restrukturisasi untuk menyelamatkan seluruh kebijakan Jiwasraya. Farid A. Nasution, Anggota Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya untuk Solusi Jangka Pendek, mengatakan upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab pemerintah dalam melaksanakan keputusan bersama yang disepakati dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). , otoritas dan institusi terkait.

Sejalan dengan pelaksanaan program restrukturisasi, kata Farid, Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya juga tengah dilanda tekanan likuiditas akibat tingginya suku bunga produk asuransi dan investasi yang sempat dijual di masa lalu.

Merujuk pada laporan keuangan perseroan tahun buku 2020, Farid mengatakan, aset Jiwasraya diketahui hanya Rp. 15,72 triliun dengan total kewajiban mencapai Rp. 54,36 triliun. Dengan posisi ekuitas negatif hingga Rp38,64 triliun, tidak diragukan lagi solvabilitas Jiwasraya atau risk based capital (RBC) per 31 Desember 2020 berada di posisi minus 1.000,3 persen atau jauh di bawah batas minimal 120 persen. , sesuai dengan regulasi. OJK.

Oleh karena itu, pemerintah bersama beberapa pengambil kebijakan sepakat untuk segera melakukan program restrukturisasi dan mendirikan perusahaan baru bernama IFG Life, ”kata Farid dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (20/4).

Farid menjelaskan, sebenarnya Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya sudah mencari dana untuk menjaga operasional perusahaan, hingga pembayaran bunga. berputar, serta tunjangan pensiun yang terakhir dilakukan pada Maret 2020. Dana untuk menutupi biaya ini berasal dari penerbitan REPO; optimalisasi aset properti; hingga diterbitkannya Medium Term Notes (MTN) yang akan berlangsung pada pertengahan 2018 hingga 2020.

Karena dihadapkan pada masalah kewajiban yang besar dan bergulir, kata Farid, Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya menyadari bahwa penyelamatan kebijakan Jiwasraya tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan skenario pendanaan yang telah dilakukan. Untuk itu, diperlukan solusi yang fundamental dan komprehensif guna menyelamatkan seluruh kebijakan Jiwasraya.

Hal inilah yang mendasari pemerintah mendirikan IFG Life dengan memberikan PMN senilai Rp 22 triliun ditambah Rp 4,7 triliun dari upaya penggalangan dana yang dilakukan oleh holding company IFG Life, kata Farid.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kepatuhan dan SDM Jiwasraya R Mahelan Prabantarikso menyampaikan bahwa untuk meningkatkan kondisi Jiwasraya dalam menyelamatkan segala kebijakan diperlukan upaya transformasi di seluruh aspek perusahaan. Sejak pertengahan 2018 hingga 2020, kata Mahelan, Tim Akselerasi Restrukturisasi Jiwasraya telah menghentikan penjualan produk yang merugi, guna meningkatkan kualitas manajemen risiko perusahaan dengan menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran.

Mahelan menyampaikan, Tim Akselerasi Restrukturisasi Jiwasraya telah memiliki dan menggunakan standarisasi penempatan portofolio investasi yang ideal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam rangka memperkuat upaya transformasi tersebut, saat ini penggunaan prinsip Good Corporate Governance (GCG) atau tata kelola perusahaan yang baik meliputi anti ratifikasi, pengendalian informasi, pelaporan pelanggaran, penerapan pedoman etika dan pelaku, hingga pelaporan LHKPN.

“Diharapkan upaya ini dapat diartikan sebagai komitmen pemerintah untuk menyelamatkan seluruh kebijakan Jiwasraya. Manfaat kebijakan Jiwasraya yang direstrukturisasi akan terus berlanjut di IFG Life,” kata Mahelan yang juga juru bicara Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya.

Seperti diketahui, untuk menyelamatkan seluruh kebijakan Jiwasraya, pemerintah telah membentuk Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya melalui penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan dan BUMN Nomor SK 143 / MBU / 05/2020 & N0 .227 / KMK.06 / 2020.

Tugas pokok dan fungsi Tim Percepatan Restrukturisasi Jiwasraya antara lain, pertama, menjaga operasional Jiwasraya dengan kondisi keuangan yang tidak memungkinkan untuk memenuhi kewajiban kepada semua pemegang polis.

Kedua, mencari solusi pendanaan jangka pendek, menengah dan panjang untuk memenuhi kewajiban. Ketiga, menjalankan program restrukturisasi kebijakan Jiwasraya, yang merupakan hasil kesepakatan bersama antara pemegang saham dengan DPR, otoritas dan lembaga terkait.

Ketua Tim Solusi Jangka Menengah Restrukturisasi Jiwasraya Angger P Yuwono mengatakan progres restrukturisasi kebijakan Jiwasraya hingga Jumat (16/4) terus mengalami eskalasi yang sangat positif. Hal itu ditunjukkan dengan adanya 91,3 persen atau sekitar 15.934 kategori pemegang polis bancassurance yang telah berpartisipasi dalam program restrukturisasi. Sedangkan untuk pemegang polis kategori korporasi, jumlahnya mencapai 76,6 persen atau 148.729 partisipan, disusul polis kategori retail yang mencapai 71,9 persen atau 131.366 partisipan.

“Kami menyadari program restrukturisasi adalah solusi yang tidak menyenangkan, tetapi semua ini dilakukan untuk kebaikan bersama karena tidak ada pilihan yang lebih baik selain restrukturisasi,” kata Angger.




Source