Waktu Pembangunan Jembatan Tempoak Renok Diperpanjang

Sumbawa Besar, Gaung NTB

Pembangunan jembatan Tempoak Renok banyak dikeluhkan oleh masyarakat Orong Telu. Pasalnya, jembatan itu belum juga selesai dibangun. Tantangan semakin berat karena masyarakat harus menyebrangi sungai dengan bayaran yang cukup mahal sebesar Rp 50 ribu. Jalan wakil (sementara) sudah dibangun sebanyak 2 kali namun materialnya selalu hanyut dibawah banjir. Menanggapi hal tersebut Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sumbawa Dian Sidharta ST MM kepada Gaung NTB (17/12) menyampaikan saat ini rekanan sedang perpanjangan waktu. Perpanjangan waktu dikabulkan karena perancangan yang sudah terpasang dibawah banjir.  

Menurutnya, perpanjangan juga ada aturannya sampai dengan akhir tahun. Jika rekanan tidak mampu menyelesaikan sampai batas waktu, maka awal tahun 2021 ada denda 50 hari kerja. Kesempatan dalam denda 50 hari tersebut, ketika itu berakhir maka mekanismenya pemutusan kontrak.

“Kita berdoa semoga bisa selesai, memang sudah opsi yang disiapkan yaitu terbaik dan terburuk,” katanya.

Disebutkan, opsi terbaik diharapkan jembatan selesai tepat waktu sedangkan opsi terburuk perpanjangan waktu, denda 50 hari kerja dan pemutusan kontrak.

Ia menjelaskan, pembuatan jalan sementara atau jalan wakil sudah dilakukan namun sudah 2 kali dibawah banjir.

“Dalam perencanaan jalan wakil tidak diperhitungkan ketinggian debit air, apabila ditinggikan maka akan menambah biaya sementara anggarannya terbatas,” jelasnya.

Lebih jauh sambungnya, ada alat eskapator yang stay disana, tetapi tidak bisa berfungsi ketika banjir dan debit air cukup tinggi.

Oleh karena itu, dibutuhkan peran semua stakeholders semua lini, diharapkan camat dan warga setempat bisa bergotong royong dan mencari solusi bersama sembari menunggu jembatan selesai.

Ia mencontohkan misalnya melakukan inovasi dengan membuat alat penyebrangan sederhana yang lebih refresentatif tentu dengan mengumpulkan dana dari warga serta diharapkan pemerintah desa juga aktif memantau dilokasi.

“Camat harap turun dan himbau warga yang mengambil keuntungan dengan mahalnya biaya penyebrangan di sungai, ajak mereka berdiskusi dan musyarah untuk kepentingan bersama, saya sangat maklumi ketika masyarakat mengelu karena itu jalan satu-satunya tetapi ini kondisi alam, datangnya banjir akibat kerusakan hutan juga, mari lakukan kolaborasi dan mencari solusi bersama misalnya buat alat penyebrangan dikumpulkan bahannya dari donasi warga dan minta beberapa orang untuk operasikan jikalau ada tarif maka lebih real ongkosnya 10 ribu aja, jika warga harus menginap menunggu banjir surut maka diharapkan ada pedagang yang berjualan makanan instan seperti mie rebus atau kopi,” ujarnya.

Sementara itu, ditambahkan Kadis PU H Rosihan ST MT kepada Gaung NTB kamis (17/12) terjadinya refocusing anggaran menyebabkan proyek pembangunan jembatan Tempoak Renok sempat terhenti, pengembalian dari pemerintah pusat baru dilakukan jelang akhir tahun. Banyak pertimbangan yang sudah dilakukan termasuk berkonsultasi dengan Bappeda sebelum kelanjutan pembangunan dilakukan.   

“Progres pembangunan jembatan tempoak renok persentasenya berapa yang lebih tahu adalah PPK Kabid Bina Marga Ihsan Imanuddin ST tetapi saat ini lagi turun ke lapangan yakni di Kecamatan Labangka,” pungkasnya. (Gks)